Strategi Nasional Indonesia

Forum Diskusi Strategi Nasional Indonesia

  • April 2014
    S S R K J S M
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Arsip

  • Meta

  • Web Counter

  • RSS Tech News Headlines – Yahoo News

    • Apple expands buybacks by $30 billion, OKs 7-for-1 stock split 24 April 2014
      By Edwin Chan SAN FRANCISCO (Reuters) - Apple Inc has approved another $30 billion in share buybacks till the end of 2015 and authorized a rarely seen seven-for-one stock split, addressing calls to share more of its cash hoard while broadening the stock's appeal to individual investors. Activist investor Carl Icahn, who had famously called on the iPhone […]
    • Apple resets the clock as investors await next big thing 24 April 2014
      By Edwin Chan SAN FRANCISCO (Reuters) - Apple Inc just bought itself some much-needed time. On Wednesday, the company surprised Wall Street with news that it sold more iPhones in the March quarter than even the most bullish analysts had expected. To top it all off, Apple unveiled a 7-for-1 stock split that should go down well with individuals who want a piec […]
    • U.S. judge denies Apple's move to hold off e-book antitrust trial 24 April 2014
      A U.S. federal judge denied a bid by Apple Inc on Wednesday to hold off a trial in a case brought by state attorneys general accusing the company of conspiring with five major publishers to fix e-book prices. U.S. District Judge Denise Cote in a brief order said the July 14 trial had already been postponed once and should go forward, paving the way for more […]
    • Facebook first-quarter revenue grows 72 percent on rising mobile ads 24 April 2014
      By Alexei Oreskovic SAN FRANCISCO (Reuters) - Facebook Inc's mobile advertising business accelerated in the first three months of the year, helping the Internet social networking company top Wall Street's financial targets. Shares of Facebook were up nearly 3 percent at $63.05 in after-hours trading on Wednesday. Facebook said that mobile ads repre […]
    • Qualcomm's quarterly revenue growth dwindles, shares fall 23 April 2014
      By Noel Randewich SAN FRANCISCO (Reuters) - Qualcomm Inc on Wednesday posted its smallest quarterly revenue increase since 2010 as it wrestles with a smartphone market that is losing steam and shifting to China, sending its shares lower. With expansion in the smartphone industry moving away from wealthy markets such as the United States and toward China and […]
    • All at sea: global shipping fleet exposed to hacking threat 24 April 2014
      By Jeremy Wagstaff SINGAPORE (Reuters) - The next hacker playground: the open seas - and the oil tankers and container vessels that ship 90 percent of the goods moved around the planet. Somali pirates help choose their targets by viewing navigational data online, prompting ships to either turn off their navigational devices, or fake the data so it looks like […]
    • Tarantino's $1 million 'The Hateful Eight' script leak lawsuit thrown out of court 24 April 2014
      The first round of Quentin Tarantino's $1 million copyright case against Gawker Media has been dismissed by a US judge. The director sued the company in January, claiming that its Defamer channel had demonstrated "blatant" infringement of copyright by linking to a leaked version of his script for ensemble western The Hateful Eight. But, speaki […]
    • Hacker-turned-FBI informant may have orchestrated foreign cyberattacks 24 April 2014
      The hacker subplot in House of Cards' second season might have felt out of place, but from the sounds of a recent New York Times report, Frank Underwood's methods for putting captured hackers to work might not be too ...
    • U.S. regulators to propose new net neutrality rules in May 24 April 2014
      By Alina Selyukh WASHINGTON (Reuters) - U.S. regulators are expected to vote on May 15 on a new set of so-called "net neutrality" rules aimed at making certain that broadband providers do not slow down or block consumers' access to legal Internet content. The rules from the Federal Communications Commission, which released its framework in Feb […]
    • FDA moves to regulate e-cigarettes for the first time 24 April 2014
      The Food and Drug Administration is to propose its first regulations on e-cigarettes today in a move with sweeping implications for the nascent market. The administration plans to ban the sale of the nicotine vapor dispensers to people under 18 and mandate photo ID for purchases, but there won't be any restrictions on marketing or flavors at first. Manu […]
  • Halaman

PM Australia Kevin Rudd: Pemerintah sebaiknya beri Kail kepada Masyarakat dari pada beri Ikan

Posted by sroestam pada 15 Juni 2008

Nasehat PM Autralia tersebut agar Pemerintah memberi Kail kepada
Masyarakat Miskin dari pada memberi Ikan, adalah sangat tepat pada
situasi dewasa ini di Indonesia, terutama saat kita menghadapi
meningkatnya harga BBM.

Jadi dari pada membagi-bagi dana BLT, alangkah lebih baik kalau dana itu
dipakai untuk membeli kail, berupa Mesin Pembuat Biofuel/Bioetanol
kecil-kecil, dan dibagikan kepada kelompok2 masyarakat miskin untuk
mengelola, meproduksi dan menjual Biofuel kepada masyarakat sekitar
mereka yang membutuhkannya. Ini akan dapat meningkatkan taraf hidup
kelompok2 masyarakat miskin tersebut, menjadi masyarakat yang mampu dan
bisa berdikari untuk jangka panjang.

Barangkali ini adalah hikmah dari naiknya harga BBM bagi masyarakat itu.

Dari perhitungan kasar kami, Dana Subsidi BBM/BLT sebesar Rp 50 Trilyun
dapat dipakai untuk membeli 2 juta Mesin Biofuel @Rp 25 juta, dengan
kemampuan produksi minimal 1000 liter/hari.

Bila ada 16 juta rakyat miskin, maka tiap kelompok terdiri dari 16
juta/2 juta mesin = 8 orang per mesin Biofuel.

Revenue mesin per hari = 1000 x Rp 6000 = Rp 6 juta/hari, dibagi 8 orang
(keluarga), maka penghasilan mereka adalah Rp 750.000/hari/keluarga,
cukup untuk menjadikan mereka masyarakat kelas menengah yang mandiri.

Produksi Biofuel rakyat ini akan dapat mengurangi kebutuhan BBM DN
Indonesia, sampai pada tahap kita tidak perlu meng-impor BBM, malah
meng-export BBM. Jadi harga BBM di DN tidak lagi tergantung harga BM LN.
Indonesia akan dapat bertahan dari kemelut membubungnya harga BBM LN.

Semoga saran ini didengar oleh Pemerintah dan para Pemimpin Indonesia
untuk segera dilaksanakan.

Contoh mesin Bioetanol sudah banyak, termasuk buatan pak Darmoni Badri
dan Pak Himawan yang sudah beroperasi di Jawa Tengah.

Silahkan ditanggapi.

Ditulis dalam Pemerintah sebaiknya beri rakyat Kail daripada Ikan | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Strategi menghadapi makin meningkatnya Harga BBM: Produksi Biofuel Rakyat dan Penggunaan Energi Alternatif

Posted by sroestam pada 30 Mei 2008

Kami sangat prihatin melihat perkembangan dan dampak kenaikan harga BBM D.N. yang mengikuti terus meningkatnya Harga BBM L.N., yang saat ini sudah mencapai US$135/barrel, dan diramalkan akan menuju ke US$200/barrel pada akhir tahun 2008 ini.

Kami sangat khawatir melihat langkah-langkah sesaat yang dilakukan oleh Pemerintah yang bersifat sangat jangka pendek, ibarat memadamlan kebakaran yang sedang berlangsung, dan bukan langkah-langkah untuk mengatasi meningkatnya harga BBM di LN yang diikuti oleh naiknya Harga BBM D.N. secara jangka panjang dan permanen.

Kita perlu melihat keberhasilan Argentina saat terjadi Krisis Minyak tahun 1970-an, dimana Pemerintah dan Bangsa Argentina telah melakukan langkah yang tepat jangka panjang, yaitu mengalihkan sumber Bahan Bakar dari Biofuel yang berlimpah dinegeri itu. Saat ini Argentina bisa berlenggang kangkungmenghadapi kenaikan BBM Dunia, sebab negeri ini tidak perlu mengimpor BBM dari LN, walaupun harganya naik setinggi langit, tidak akan mempengaruhi mereka. Kuncinya, energi BBM dan alternatif Biofuel dapat dipenuhi dari sumber di dalam negeri, dan kalau berlebih dapat di-ekspor untuk makin meningkatkan Devisa Nasional.

Yang terjadi saat ini di Indonesia justru penanggulangan jangka pendek terhadap Krisis Mahalnya BBM di LN, diikuti berbagai demo menentang kenaikan harga BBM DN, dan perdebatan sengit dampaknya, apakah akan meningkatkan jumlah rakyat miskin atau malah mengurangi jumlah rakyat miskin dengan bantuan BLT.

Para Pemimpin negeri ini menjadi makin bingung dan tidak fokus untuk mencari solusi yang tepat jangak panjang untuk menyelamatkan kehidupan Bangsa Indonesia dalam beberapa tahun mendatang, apakah kita semua masih bisa selamat atau survive. Yang kita hadapai saat ini adalah persoalan hidup-mati Bangsa Indonesia. Untuk itu kita memerlukan sebuah pemikiran jernih untuk menghasilkan solusi yang strategis menghadapai Krisis makin meningkatnya harga BBM di  LN (dan juga di Indonesia).

Solusi yang akan kami sampaikan adalah merupakan solusi jangka pendek dan jangka panjang yang dapat menghentikan kenaikan harga BBM di D.N., walaupun harga BBM di L.N. masih akan terus meningkat, yaitu sbb:

  1. Meningkatkan jumlah pengendara sepeda untuk menuju ke Kantor, Sekolah, Universitas, belanja maupun untuk rekreasi. Untuk itu Pemerintah harus segera membangun sarana jalan sepeda, untuk melindungi dan memberikan kenyamanan bersepeda di berbagai kota.
  2. Kurangi penggunaan kendaraan ber-cc besar, gunakanlah kendaraan ber-cc kecil dan sepeda motor, demi menghemat penggunaan BBM secara nasional.
  3. Bagi masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari kantor atau tujuan mereka lainnya, direkomendasikan untuk menggunakan sarana angkutan umum. Pemerintah/Pemda diminta untuk menambah ketersediaannya.
  4. Bagi para Eksekutif dan Staff White Collar, disarankan untuk melakukan budaya kerja baru Teleworking, kerja dari rumah atau lokasi Warnet dan Hot Spots WiFi yang terdekat, untuk menghemat BBM dan sekaligus mengurangi kemacetan lalulintas kota.
  5. Masyarakat dihimbau untuk menggunakan makin banyak Energi Alternatif untuk kebutuhan listrik, memasak, dll, yaitu menggunakan Energi Gas Alam (LNG), Batubara, Energi Surya, Angin, Air Terjun, Ombak Laut, Panas Bumi, dan Biofuel dari Tanaman Jarak, Enau, Tebu, Kelapa Sawit, Gas dari Kotoran Sapi, bahan bakar dari Briket Arang limbah kota, Serbuk Gergaji, Kayu, dahan dan ranting-ranting.
  6. Untuk menambah penghasilan masyarakat dan rakyat pada umumnya, maka ditiap rumah agar memproduksi berbagai jenis biofuel untuk kebutuhan sendiri tiap hari, dan kelebihannya dapat dijual untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Bila ke-enam langkah tersebut dapat dikoordinasikan serta dilaksanakan secara bersama, serentak dan konsisten oleh Pemerintah dan para Pemimpin Bangsa ini, maka kami percaya bahwa krisis energi yang berdampak juga pada krisis pangan di Indonesia akan dapat berlalu dalam waktu yang tidak terlalu lama, sebelum semuanya menjadi terlambat.

Semoga pemikiran ini dapat diterima oleh Pemerintah dan para Pemimpin Bangsa Indonesia, demi menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan akibat meningkatnya Harga BBM di LN dan di DN.

Melalui kebersamaan, ketekunan dan keuletan berusaha, Insya Allah bangsa Indonesia dapat keluar dari Krisi BBM dan Krisis Pangan saat ini.

Ditulis dalam Strategi Jangka Panjang penyediaan BBM | Dengan kaitkata: , , | 1 Comment »

Dapatkah Perubahan Budaya Kerja Teleworking Mencegah kenaikan Harga BBM Dalam Negeri?

Posted by sroestam pada 16 Mei 2008

Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu dalam hari-hari ini sedang dalam proses memantapkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM, sebagai salah satu cara untuk mengurangi subsidi BBM akibat dari naiknya harga-harga minyak mentah di Pasar Internasional.

Indonesia dahulunya adalah termasuk negara peng-ekspor minyak dunia dan sampai saat ini masih menjadi Anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Peng-ekspor Minyak), walaupun saat ini Indonesia sudah menjadi negara yang meng-impor minyak (net oil importing country), sebab kebutuhan akan minyak mentah Indonesia sudah mencapai 1,2 juta barrel per hari, versus Produksi Minyak Mentah sebesar sekitar 1 juta barrel per hari. Namun perlu kita ketahui bahwa Indonesia juga adalah peng-ekspor Gas Bumi (LNG) terbesar di dunia, peng-ekspor Batubara, dan peng-ekspor terbesar CPO yang dapat digunakan sebagai Biofuel.

Kalau saja berbagai bentuk energi tersebut diatas dapat dipertukarkan, maka sebenarnya Indonesia adalah negeri “Net Exporter of Energy”. Sehingga secara makro, maka dampak kenaikan harga BBM dunia malah akan sangat menguntungkan Indonesia, bertambahnya Devisa Negara karena sebagai “Net Exporter of Energy”. Dana besar ini malah dapat dipakai untuk mensejahterakan Rakyat Indonesia.

Di Indonesia telah pula diketahui banyak sumber energi alternatif sebagai supplement atau pengganti energi BBM, yaitu:

  1. Biogas yang berasal dari kotoran sapi,

  2. Etanol yang berasal dari tanaman Enau (satu pohon enau dapat menghasilkan 1-liter etanol murni) yang merupakan biofuel.

  3. Briket Arang yang dibuat dari sampah kota (diproduksi di Ciamis dengan harga Rp 1.600/kg briket arang),

  4. Bahan bakar dari serbuk gergaji (di lokasi-lokasi penggergajian kayu), dll

  5. Energi matahari yang diubah menjadi energi listrik dengan Solar Panel (dipakai di pedalaman Kalimantan Tengah),

  6. Energi Ombak yang diubah menjadi energi listrik di Panati Selatan Pulau Jawa.

  7. Energi Angin yang dapat dikombinasikan dengan energi matahari untuk mengisi Battery Penyimpan Energi Listrik,

  8. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Itu semua kalau secara intensif dan dilakukan secara terkoordinasi di seluruh Indonesia, maka hasilnya akan berupa pengurangan kebutuhan BBM yang cukup signifikan.

Kembali kepada topik utama, maka kami akan uraikan bahwa dengan merubah budaya kerja dari bekerja masuk kekantor tiap hari (5-hari atau 6-hari kerja), menjadi budaya bekerja jarak jauh atau Teleworking, Indonesia akan dapat menghemat pemakaian BBM lebih banyak lagi. Dengan Teleworking, maka para karyawan tidak lagi harus masuk kantor tiap hari, tetapi cukup masuk kantor 1 -hari atau 2-hari saja dalam 1-minggu.

Sudah tentu tidak semua jenis pekerjaan dapat dilaksanakan secara jarak jauh. Yang cocok untuk kerja jarak jauh adalah pekerjaan para Top Executives, Managers, dan karyawan yang hanya memerlukan kerja otak saja yang dapat melaksanakan kerja jarak jauh. Masuk kantor secara fisik hanya diperlukan saat akan konsultasi dengan Pimpinan atau Staff, dan rapat-rapat yang memerlukan kehadiran fisik.

Di Indonesia saat ini terdapat sejumlah 27 juta orang yang sehari-harinya biasa mengakses Internet untuk berbagai keperluan bisnis maupun non-bisnis. Dengan asumsi bahwa hanya 50%-nya dari jumlah tersebut diatas yang dapat atau mau melakukan Teleworking (Kerja Jarak Jauh), dan asumsi penghematan BBM sebesar 5-liter per hari per orang, maka Total penghematan BBM dapat mencapai:

  • 27-jutax50%x5-liter = 67,5 juta liter per hari, atau

  • 67,5-juta liter x 360 hari = 24,27 juta liter per tahun

Dengan harga Bensin rata-rata Rp 5000/liter, maka akan dihemat dana subsidi BBM sebesar Rp 121,35 milyar per tahun.

Keuntungan lainnya dari penerapan Budaya Teleworking adalah berkurangnya kepadatan lalulintas, sehingga memperlancar transportasi di kota-kota besar di Indonesia.

Kesimpulan dari analisis ini:

  1. Dampak terbesar yang dapat diperoleh untuk mencegah naiknya Harga BBM di dalam negeri adalah melalui pengaturan pendapatan negara dari hasil penjualan Ekspor Energi Indonesia, sebab Indonesia adalah “Net Exporter Energy”, serta restrukturisasi penggunaan BBM di dalam negeri (tingkatkan pemakaian energi dari gas bumi, dan kurangi pemakaian energi BBM).

  2. Extensifikasikan penggunaan Energi Alternatif untuk menghemat BBM

  3. Kembangkan Budaya Kerja Jarak Jauh, yang dapat menghemat energi BBM secara moderat, serta mengurangi kemacetan lalulintas.

Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan para Pemimpin di negeri ini dalam upaya mensejahterakan Rakyat Indonesia.

Ditulis dalam Teleworking vs Kenaikan BBM | Dengan kaitkata: , , , , , | 1 Comment »

Cara Cerdas dan Efektif untuk Menangkal Penyebaran Film Fitna

Posted by sroestam pada 12 April 2008

Para Pemirsa yang Budiman,

  • Siapakah yang ingin kita proteksi dari Menonton Film FTNA?
  • Apakah Pemisa di Indonesia ataukah Pemirsa di Luar Negeri?

Menurut saya, logikanya seharusnya Pemirsa di Luar Negeri yang ingin kita larang menonton Film Fitna, sebab Pemirsa di Indonesia sudah tahu bahwa Film Fitna itu dibuat untuk memfitnah atau menjelekkan ummat Islam, sehingga mereka paling banter menonton sekali saja, sesudah itu akan bosan.

Sedangkan para Pemirsa di Luar Negeri yang umumnya kurang faham tentang Islam, akan terpengaruh dari hasil menonton Film FITNA itu, sehingga mereka akan memiliki pandangan yang negatif terhadap ummat Islam.

Kalau pemikiran saya ini yang benar, maka segala upaya yang selama ini dilakukan adalah upaya yang TERBALIK, kita keliru dengan memblokir akses Pemirsa di Indonesia. Demikian juga kesepakatan dengan Google, adalah kesepakatan yang Terbalik. Seharusnya Pemirsa di Luar Negeri yang dilarang nonton Film Fina itu, atau seharusnya Film Fitna itu dihapus dari Youtube.com.

Jadi langkah yang lebih tepat adalah sbb:

  1. Mengirim sebanyak-banyaknya Flag di Situs URL Youtube yang mengandung isi Film Fitna, agar Content ini dihapus oleh Admiistrator Youtube.com.
  2. Membuat sebanyak-banyaknya Content dengan judul FITNA, tetapi isinya meng-counter isi Film Fitna Asli dari Geert Wilders, sehingga Content Fitna asli ini akan tenggelam di lautan Content Fitna yang meng-counter isi asli Film Finta itu.

Silahkan berikan pendapat Anda melalui Polling di URL:

KLIK DISINI

Ditulis dalam Menangkal Film Fitna | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

TIPS agar Tidak Memakai Software Illegal

Posted by sroestam pada 20 Maret 2008

PRESS RELEASE Hasil Survey/Polling Penggunaan Software Illegal sampai dengan hari ke-5 Kamis, 20 Maret 2008 menghasilkan Score sbb:

Operating System Proprietary (Windows/Mac) Legal dan SW Aplikasi Proprietary Legal: 9 (3%)
Operating System Proprietary (Windows/Mac) Legal dan SW Aplikasi Open Source: 26 (9%)
Operating System Linux dan SW Aplikasi Open Source: 41 (14%)
Operating System Proprietary (Windows/Mac) Illegal dan SW Aplikasi Open Source: 6 (2%)
Operating System Proprietary (Windows/Mac) Illegal dan SW Aplikasi Illegal (atau Legal+Illegal): 204 (71%)

Total Responden adalah 286 orang, dan rasio Penggunaan SW Illegal vs SW Legal adalah sebesar 73% (210 responden) vs 26% (76 responden).

Walaupun % Penggunaan SW Illegal hasil Survey/Polling ini sebesar 77%, yang masih dibawah angka yang sering dikutip pihak asing sebesar 85%, namun kami khawatir bila angka tersebut meningkat mendekati 85% atau bisa jadi lebih besar dari angka tersebut diatas, sejalan dengan meningkatnya jumlah pesarta Survey/Polling.

Ada empat penyebab utama mengapa banyak para pemakai Komputer/PC/Laptop di Indonesia memakai SW Illegal, yaitu:

1.Harga Software Proprietary yang sangat tinggi dibandingkan dengat daya beli masyarakat Indonesia pada umumnya, menyebabkan banyak yang mengambil jalan pintas untuk melakukan pembajakan Software Proprietary.
2.Kebiasaan Masyarakat Indonesia pada umumnya yang sudah mendarah-daging menggunakan Software Proprietary berbasiskan MS Windows.
3.Murahnya dan mudahnya Masyarakat Indonesia untuk memperoleh Software-software Proprietary Bajakan.
4.Kurangnya sosialisasi dan promosi penggunaan Software Open Source sebagai alternatif yang sangat tepat, karena dapat diperoleh secara gratis atau murah tanpa melanggar UU HAKI.

Dalam kerangka untuk membangun Masyarakat Indonesia yang tertib hukum dan dalam rangka untuk meningkatkan citra Bangsa dan Negara Indonesia di dunia Internasional, maka kami menyarankan agar:

1.Bagi Perusahaan/Lembaga/Instansi/Individu yang memiliki dana yang cukup, maka dipersilahkan untuk menggunakan Software-software Proprietary Legal (ber-Lisensi) sesuai kebutuhannya.
2.Bagi Perusahaan/Lembaga/Instansi/Individu yang hanya memiliki dana yang terbatas, maka direkomendasikan untuk menggunakan:

  • Software Operating System Proprietary (Windows/Mac) yang Legal (ber-Lisensi) dan Software Aplikasi Open Source atau kombinasi SW Aplikasi Open Source dan Proprietary Legal
  • Operating System Open Source (LINUX) dan SW Aplikasi Open Source

Kami ingin tambahkan pula bahwa saat ini telah tersedia di Internet yang dapat di-download secara gratis, sebuah paket lengkap Software2 Aplikasi, yaitu Multimedia Office dari Plata Software buatan Spanyol (ber-lisensi GPL -General Public License), yang berisikan:

1.MultimediaOffice Audacity Sound Editor
2.MultimediaOffice Base (Data Base)
3.MultimediaOffice Calc (Excel)
4.MultimediaOffice Draw (Paint)
5.MultimediaOffice GIMP Image Editor (Photoshop)
6.MultimediaOffice Impress (Power Point)
7.MultimediaOffice Math (Mathematical expressions)
8.MultimediaOffice Opera web Browser
9.MultimediaOffice Thunderbird e-mail (Outlook Express)
10.MultimediaOffice Virtual Dub Video
11.MultimediaOffice Writer (Word)

Kesemuanya di-kompress dalam satu file sebesar 52 Mbytes.
Lokasi URL dari Plata Software Inc,. adalah di:

http://www.platasoft.eu/main/?

Kami harapkan informasi ini dapat dengan drastis menurunkan Tingkat Penggunaan Software Illegal di Indonesia, bila mungkin menjadi yang ter-rendah di Dunia. Insya Allah!

Agar Hasil Survey dapat diyakini kebenarannya, maka diperlukan jumlah Responden yang cukup banyak dan cukup Representatif. Oleh karena itu kami menghimbau agar kawan2 yang belum memberikan Voting agar melakukannya melalui URL sbb:

http://duniatelematika.blogspot.com/

Terimakasih atas kerjasama dam partisipasinya.

Wassalam,
S Roestam

Ditulis dalam Software Legal vs Illegal | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Tips buat Capres Pemilu 2009: Internet, Web 2.0 dan Viral Marketing menjadi penentu Kemenangan

Posted by sroestam pada 6 Maret 2008

Internet dan Web 2.0 diramalkan akan menjadi penentu kunci kemenangan Pemilu 2009. Telah banyak buktinya bahwa dengan cepatnya penyebaran informasi kepada masyarakat melalui teknologi Web 2.0 seperti Blog, Interactive Web (AJAX), Streaming Video YouTube, Slideshow Flickr bagaikan virus ganas yang menyebar cepat keseluruh penjuru dunia (Viral Marketing).

Barack Obama Kita saksikan bagaimana peringkat Kandidat CaPres AS Barrack Obama dapat naik tajam melalui music video yang inspirasional berjudul: “Yes We Can” yang mirip slogan kemenangan Bapak Presiden SBY: “Bersama Kita Bisa”, dimana Barrack Obama sebagai bintangnya dan lyrics yang diambil dari pidatonya di acara kampanye pembukaan di New Hampshire, USA. Kepopuleran streaming video kampanye melalui YouTube itu karena hal ini adalah yang pertama kali dilakukan untuk Kampanye CaPres AS (Teori marketing: Yang Pertama adalah yang akan menjadi Leader). Pembuatan Streaming Video ini bukan atas inisiatif pribadi Obama, melainkan inisiatif beberapa artis Hip-Hop yang menginginkan agar Obama menang dalam Pemilu 2008 di AS.

Partisipasi sosial masyarakat menggunakan media Internet dalam Kampanye CapRes AS 2008 merupakan contoh trends yang sedang berjalan saat ini. Bila dalam Kampanye CaPres 2004 di AS digunakan Kehadiran Web secara statis, maka dalam tahun 2008 dipakai Kehadiran Web 2.0 yang dinamis (Web 2.0 Presence), dimana selain info tentang CaPres yang statis, juga ada proses partisipasi social masyarakat melalui networking di Internet, Blogs, Situs Socio-Video, embedded Widgets dan lain-lain lagi yang mampu menjangkau jutaan pemirsa/voters dalam waktu sangat singkat!

Di AS saat ini mayoritas kandidat partai Demokrat maupun Republik sudah memiliki Blog di MySpace dan Facebook yang populer, untuk menjangkau jutaan pemilih dan berinteraksi dengan mereka.

Web 2.0 Viral marketing Strategy Barack Obama yang berhasil adalah sbb:

  1. Membuat Situs web my.BarackObama.com
  2. Mengisi konten Streaming Video “Yes We Cam” di Situs Web tersebut diatas.
  3. Menyarankan para pendukungnya membuat Blog di Facebook dan MySpace, dan mengisi dengan konten Streaming Video “Yes We Can” dari Obama agar dilihat masyarakat (Viral Marketing – jumlahnya meningkat secara exponensial).
  4. Melalui Situs my.BarackObama.com, dibangun Komunitas Blogs para pendukungnya.
  5. Mengisi Blogs para pendukungnya dengan berbagai aktivitas bersama, a.l. Pengumpulan Dana, saran, pendapat dan dukungan kepada kandidat CaPres, komunikasi antar pendukung, dsb.

Di Era Masyarakat Informasi ini, peran diskusi interaktif yang intelligent melalui Komunitas Blog para pendukung Barack Obama merupakan sebuah langkah yang strategis untuk mengisi pikiran (mind) para pendukungnya untuk lebih mantap lagi selaku calon voters dalam Pemilu AS tahun 2009. Kesimpulannya, melalui sarana dunia maya ini, Barack Obama akan menjadi pemenang dalam perebutan “pikiran” atau “mind” pemilih (voters) Amerika Serikat.

Dengan makin meningkatnya jumlah peng-akses Internet di Indonesia, terutama di kalangan Generasi Muda, maka peran Kampanye Viral Marketing Barack Obama dapat dijadikan contoh bagi para CaPres Pemilihan Presiden tahun 2009.

just in my ability to bring about real change in Washington…Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Berikut ini adalah contoh dukungan kepada Capres Barack Obama melalui Komunitas Blog-nya sbb:

A peaceful world, a save and secure country, freedom of speech, freedom of expression, a world leader of democracy are the current dreams of the majority of the people of the United States of America that had been lost for many years. It is the time for all of us to elect a new Leader who is capable to make the change in our country and society to fulfil our long awaited dreams. We need a leader with a peaceful mind, having a clear understanding of the need of his people, willing to listen to his people, a man of integrity and strong determination to make the necessary change in the United States of America.Among the many US Presidential Candidates that we have seen and met so far, only Barack Obama is the most suitable one to become the next US President for the period of 2009-2014, who best met the leadership criteria stated above.Let us from now on we combine our mind, energy and resources to support the suuccessful election of Barack Obamae in the coming US Presidential election.
Together We Can, Yes We Can!
Let us cast our vote for Barack Obama!

Barack Obama: “I’M ASKING YOU TO BELIEVE..Not just the real change in Washington…. I’m asking you to believe in yours.”

Mas Barack, Abang dapat satu tambahan vote dari Indonesia!

Ditulis dalam Tips buat Capres 2009 | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

Menyeimbangkan Pendidikan Komersiil dengan e-Learning/e-Education

Posted by sroestam pada 23 Februari 2008

Komersialisasi pendidikan sebagaimana diuraikan oleh Pak Widodo Dwi Putro, Peneliti LP3ES di harian Kompas, akan menimbulkan makin besarnya kesenjangan sosial Kelompok orang-orang Kaya dan Kelompok Rakyat Miskin, serta pelestarian Kelompok orang-orang kaya, serta mengubur kemungkinan proses migrasi vertikal kelas bawah ke kelas diatasnya. Ini menentang Cita-cita Nasional Pendirian Republik Indonesia yang ingin membuat negeri ini menjadi negeri yang aman, makmur, adil, sejahtera, gemah ripah loh jinawi, bagi seluruh rakyatnya, dan upaya untuk menghilangkan atau mengurangi kesenjangan sosial diantara masyarakatnya.

Pendidikan yang baik memang memerlukan dana yang besar, dan kami pribadi tidak menentang kenyataan ini. Tetapi komersialisasi Pendidikan tanpa adanya alternatif lain untuk mengimbanginya akan menyebabkan orang berlomba2 untuk memperoleh pendidikan di Universitas atau Sekolah yang terkenal, baik di DN maupun di LN. Ujung-ujungnya bagi kelompok kaya, ada yang mencari jalan pintas agar dapat gelar S2 dan S3 dari Universitas/Sekolah begengsi dengan mengucurkan dana yang besar agar mendapatkan kemudahan-kemudahan.

Oleh karena itu, kita semua sebagai warga Negara Republik Indonesia yang mencintai negeri ini agar bisa mencapai cita-cita yang kita inginkan sesuai piagam pendirian Republik ini perlu mencari jalan alternatif pendidikan lain yang terjangkau masyarakat Indonesia yang kurang mampu.

Mengingat saat ini Indonesia telah berhasil mengembangkan jaringan Akses Internet Berpita Lebar (Broadband Internet Network) yang cukup luas jangkauannya, maka kami ingin mengusulkan agar Pemerintah/Masyarakat/Swasta untuk mengembangkan suatu alternatif pendidikan melalui jaringan ini, yang biasa disebut sebagai e-Learning/e-Education, Pendidikan secara Online.

Materi untuk pendidiak atau Kontent untuk pendidikan ini sudah banyak tersedia dari berbagai sumber Universitas-universitas besar di LN, seperti dari Massachusets Institute of Technology (MIT) Open Course Ware yang sudah tersedia secara gratis sebanyak 1800 subyek pendidikan, dan dari yang lainnya. Dari Indonesia juga sudah ada tersedia antara lain di Web http://ilmukomputer.com, dan lainnya lagi, seperti dari Perpustakaan Online Dr. Onno W. Purbo.

Agar hal ini dapat terjadi, maka perlu ada kesepakatan bersama diantara kita, dan yang lebih penting adanya Akreditasi dari DEPDIKNAS, bahwa pendidikan online ini, asalkan diselenggarakan secara baik dan teratur sesuai persyaratan yang ditentukan DEPDIKNAS, maka para lulusannya berhak menyandang gelar pendidikan yang setara dengan Pendidikan yang Komersiil tersebut diatas. Bila perlu, ujian kenaikan kelas atau tingkat dan ujian akhir dilakukan bersamaan dengan ujian di berbagai Sekolah2 atau Universitas2 yang begengsi, untuk menghindari tuduhan bahwa produk Sekolah/Universitas Online ini tidak bermutu. Para siswa/mahasiswa sekolah/Universitas Online ini dipersaingkan dengan para Siswa/Mahasiswa sekolah/univesitas komersiil bergengsi tersebut.

Lalu bagaimanakah para siswa/mahasiswa sekolah/universtas Online itu? Ada berbagai cara:

1. Di tempat-tempat umum yang dibangun khusus untuk Akses Gratis Internet untuk siswa/mahasiswa oleh Pemerinah (Depdiknas), Swasta, atau Lembaga Non-Profit, seperti di Perpustakaan Umum, Hot Spots WiFi di Mall, Cafe, Warnet, Taman, dsb. Untuk yang akses gratisan, maka di layar PC atau Laptop diperbolehkan dipasang iklan produk atau jasa sebagai imbalannya.

2. Bila siswa/mahasiswa sudah memiliki PC atau Laptop, baik milik sendiri atau fasilitas perusahaan tempatnya bekerja, maka mereka dapat melakukan akses ke materi-materi atau kuliah pendidikan yang dipilihnya, gratis atau berbayar murah.

3. Untuk materi pendidikan atau kuliah, dibuat di DN atau dari terjemahan dari Open Course Ware (OCW) produk berbagai Univesitas atau sekolah di LN, dan agar didapat secara gratis.

4. Pemerintah melaui DEPDIKNAS agar memberikan subsidi kepada Penyelenggara Pendidikan Online ini dari sebagian dana APBN untuk pendidikan yang Rp 49 Trilyun tersebut. Subsidi atau Kontribusi dana ini dapat pula diberikan oleh perusahaan-perusahaan Swasta, Operator-operator Telekomunikasi, dll, sebagai kewajiban Community Social Responsibility (CSR).

5. Untuk menghemat biaya Akses Internet, di lokasi-lokasi Pendidikan tersebut diatas juga disediakan Akses Offline, dengan menyimpan data-data Course Ware tertentu yang sangat populer, di Harddisk PC/Laptop, atau Pusat Server Jaringan LAN.

6. Diadakan kerjasama khusus antara Organisasi Warnet dengan Organisasi Penyelenggara Online Education/Learning ini.

e-Education/e-Learning vs Pendidikan Komersiil ini analogi-nya adalah Open Source Software/Free OSS vs Software Proprietary, dimana keduanya tetap exist untuk menjadi pilihan masyarakat.

Mohon kiranya dapat diberikan tanggapan, saran atau kritik, sehingga dapat dibuat sebuah kesimpulan untuk dilaksanakan bersama.
Semoga bemanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Wassalam,
S Roestam
———————

Komersialisasi Pendidikan: Widodo Dwi Putro

[kompas] SEJUMLAH perguruan tinggi negeri (PTN) besar berlomba membuka
“jalur khusus” penerimaan mahasiswa baru dengan memasang tarif Rp 15
juta sampai Rp 150 juta. Berbagai langkah PTN itu ditempuh menyusul
kebijakan dijadikannya kampus sebagai Badan Hukum Milik Negara, yang
tidak lagi mendapat subsidi melainkan diharuskan mencari dana sendiri
(Kompas, 16 Juni 2003).

KETIKA komersialisasi pendidikan itu mendapat kritik, Mendiknas Abdul
Malik Fadjar menanggapi sebagai berikut, “Yang penting itu terbuka,
transparan, dan akuntabilitasnya terjamin. Itu saja” (Kompas, 17
Juni2003). Hanya atas alasan demikiankah lalu bisnis pendidikan
seolah-olah menjadi suatu yang rasional, produktif, efisien, wajar,
dan manusiawi. Apa benar boleh dijalankan, asal dilakukan secara
transparan?

Dalam ideologi mana pun, liberal atau sosialis, negara diharuskan
menyediakan pendidikan untuk rakyatnya. Dalam sistem sosialis, rakyat
memperoleh pendidikan tanpa biaya. Kendati demikian, dalam sistem
sosialis (terutama yang totaliter) negara sering mendapat kritik
karena ia (negara) selalu campur tangan dalam banyak hal, yakni mulai
dari kurikulum hingga buku yang boleh dibaca atau tidak.

Sedangkan dalam sistem liberal, peran pemerintah sangat kecil dan
pendidikan dikelola secara profesional oleh swasta. Implikasinya,
pendidikan menjadi komoditas bisnis sehingga hanya anak orang kaya
saja yang dapat mereguk pendidikan yang berkualitas. Lalu pendidikan
Indonesia berada dalam sistem yang mana?

Orangtua siswa yang hidup pada zaman Orde Lama akan teringat bagaimana
ketika bersekolah dulu tanpa biaya. Bahkan mereka diberi alat tulis
menulis gratis. Pada masa Orde Baru keadaan mulai berubah. Negara
memang tetap menyubsidi pendidikan, tetapi biaya untuk sekolah mulai
mahal terutama sekolah-sekolah swasta.

Meskipun demikian, sulit untuk mengatakan bahwa pada masa Orde Baru
sistem pendidikan telah bergeser ke liberal. Walaupun pendidikan sudah
menjadi komoditas, tetapi negara kerap kali turut campur mulai dari
indoktrinasi (misalnya, penataran P4), kurikulum hingga pelarangan
mempelajari ilmu pengetahuan yang dianggap membahayakan stabilitas.

Pada masa sekarang, negara meningkatkan subsidi pendidikan hingga 20
persen dari APBN. Namun setelah Indonesia memasuki pusaran neoliberal,
subsidi sebesar itu tidak signifikan, apalagi diperparah oleh korupsi
yang terbendung. Pada fase neoliberal, peran negara mulai dilucuti dan
digantikan dengan kedaulatan pasar.

Termasuk dalam sektor pendidikan, negara melakukan deregulasi atau
lebih dikenal dengan nama otonomi pendidikan. Kebijakan otonomi
pendidikan ini menyebabkan sejumlah perguruan tinggi harus mencari
dana sendiri, terutama dengan jalan bisnis atau istilahnya World Trade
Organization (WTO) sebagai commercial service.

KONSEKUENSI memilih sistem neoliberal adalah pendidikan menjadi ajang
bisnis. Dapat kita saksikan bagaimana belalai komersialisasi
pendidikan tidak hanya meluas pada perguruan tinggi, tetapi sudah
membelit hingga sekolah dasar dan menengah. Ada sekolah, mulai SD
hingga SMU di Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta, yang uang sekolahnya
mencapai Rp 3 juta per bulan.

Sekolah-sekolah super elite itu ber-AC dan menawarkan berbagai program
memikat di antaranya pelajaran ekstra kurikuler out born, belajar
berkuda, dan belajar tata pergaulan internasional. Banyak orangtua
kaya yang memasukkan anak mereka ke sekolah mewah ini karena berharap
masa depan anaknya gemilang.

Barangkali kita bisa menyimak pendapat seorang pengusaha yang
menjadikan Jakarta, Singapura, Hongkong, Taiwan, Eropa, dan AS sebagai
lahan bisnisnya ketika berbicara tentang pendidikan anaknya sebagai
berikut, “Cuma anak tertua, perempuan, yang saya sekolahkan sampai
universitas terkenal di Indonesia.

Sesudah itu saya sekolahkan MBA ke Amerika. Dua adiknya, begitu tamat
SD langsung saya kirim ke Selandia Baru dan Australia untuk SMP dan
SMA-nya. Kini keduanya juga di Amerika. Mengapa begitu? Mereka akan
mewarisi bisnis saya. Memang basis bisnis mereka adalah Indonesia.
Tetapi di abad ke-21 ini bergerak begitu cepat, banyak hal yang harus
dipelajari” (Kompas, 24 Juni 2002).

Argumentasi dalam kliping itu memang tidak dapat mewakili responden
atau informan yang lain. Tetapi paling tidak, kita dapat mengetahui
secuil motif mengapa para orangtua rela mengeluarkan uangnya untuk
biaya pendidikan yang begitu mahal? Melalui pendidikan yang mahal dan
berkualitas, mereka ingin melestarikan posisi kelasnya hingga pada
keturunan berikutnya.

Dengan kata lain, bisnis pendidikan semacam ini adalah sarana
pelestarian kelas, sekaligus mengubur impian mobilitas vertikal kelas
bawah untuk memperbaiki status kelasnya. Analisis ini kedengarannya
radikal, tetapi kita tidak bisa menghindari karena pembacaan
realitasnya memang demikian. Bahwa dapat dipastikan hanya strata
sosial tertentu yang dapat menikmati sekolah atau universitas yang
bermutu. Sedangkan anak-anak orang miskin tetap dalam posisi
tertinggal dan masuk dalam lingkaran calon pengangguran, atau kalaupun
bekerja melanjutkan profesi orangtuanya sebagai penjual bakso, tukang
becak, buruh, petani gurem, dan sebagainya.

Pierre Bourdieu dalam The State Nobility dan Homo Academicus
mempersoalkan hal yang kurang lebih sama. Menurut Bourdieu,
orang-orang tidak hanya menginvestasikan uangnya dalam bentuk saham,
tetapi juga dalam bentuk symbolic capital (kapital yang bersifat
simbolik). Penelitian Bourdieu pada suku barbar di Aljazair dan
masyarakat modern Perancis dapat menjelaskan tentang symbolic capital.

Di Aljazair, masyarakat barbar tidak mempunyai modal produksi, maka
jumlah ternak menjadi ukuran status dalam hubungan-hubungan sosial.
Namun sebaliknya di Perancis, symbolic capital lebih penting, sehingga
kenapa para aristokrat di sana mengarahkan secara ketat anaknya harus
sekolah di tempat yang bermutu dan ternama, serta mendapat gelar dari
sekolah tersebut. Tentu, investasi berupa symbolic capital itu untuk
melanggengkan aristokrasi yang sangat penting dalam relasi sosial.

Dari hasil temuan filsuf Perancis ini kita dapat memahami mengapa ada
orang harus menginvestasikan uangnya dalam jumlah begitu besar hanya
sekadar mendapat gelar akademis. Mereka sadar akan pentingnya gelar S2
atau doktor, apalagi dari universitas terkenal. Selain gelar
pendidikan itu mendudukkan orang-orang pada posisi terhormat, juga
mempermudah laju masa depannya.

Komersialisasi pendidikan memang bermata ganda, di samping
mereproduksi pelestarian kelas dominan, juga mencampakkan ilmu
pengetahuan sebagai alat memanusiakan manusia ke lembah “pelacuran
intelektual” (istilahnya, J Benda). Bukankah pendidikan yang lebih
terkonsentrasi pada laba adalah getting things done daripada mengatasi
penderitaan manusia dan menolong sesama?

KENDATI komersialisasi pendidikan mempunyai basis pendukung yang luas,
bukan berarti ia hadir tanpa perlawanan. Ivan Illich, misalnya,
menyerukan kepada masyarakat dunia untuk melakukan deschooling
society. Demikian pula, Romo Mangunwijaya semasa hidupnya pernah
membuat pendidikan alternatif.

Dan hingga sekarang, di kota kecil Pekalongan pun tumbuh pendidikan
alternatif dengan nama “Sekolah Sadar Sosial”. Walau pada akhirnya,
suara alternatif itu tenggelam ditelan oleh hingar-bingarnya
komersialisasi pendidikan yang menjanjikan masa depan. “Kunang- kunang
tetap berkedip walau malam semakin larut,” hibur seorang ideolog muda
dari Yogyakarta.

Widodo Dwi PutroPeneliti LP3ES Jakarta

Ditulis dalam e-Education, e-Learning | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments »

Mengubah “Brain Drain” menjadi “Brain Gain”

Posted by sroestam pada 13 Februari 2008

Mengubah ‘Brain Drain’ Menjadi ‘Brain Gain’

Terlampir adalah sebuah tulisan yang menarik untuk diterapkan di Indonesia, berdasarkan pengalaman penerapannya di Cina. Semoga dengan mengikuti langkah itu kita dapat mempercepat Pembangunan Nasional Indonesia.Alangkah indah dan menariknya negeri Indonesia yang kita cintai ini, bilamana Pemerintah berhasil menerapkan kebijakan untuk mengubah “Brain Drain” menjadi “Brain Gain”. Negeri ini akan menjadi nyaman untuk ditempati oleh kita semua anak-anak bangsa beserta anak-cucu kita, tempat mengabdikan diri bagi nusa dan bangsa, dan tempat berlindung di hari tua, sampai kita menutup mata!

Penulis: Amich Alhumami
Peneliti sosial, Department of Social Anthropology
University of Sussex, United Kingdom

Dua raksasa Asia, China dan India yang diprediksi akan memimpin perekonomian dunia pada pertengahan abad ini, selama lebih dari 30 tahun kehilangan orang-orang terdidik dan bertalenta. Mereka pergi meninggalkan negara masing-masing untuk sekolah dan bekerja di luar negeri dengan harapan dapat mengembangkan karier profesional lebih baik. Bersamaan dengan mulai bangkitnya perekonomian, pemerintah China dan India telah merancang strategi untuk mengubah brain drain menjadi brain gain. Namun, pemerintah China tampaknya lebih agresif dan terencana secara sistematis dalam upaya memanggil pulang orang-orang terbaik, untuk membangun bangsa sendiri dan mengambil peran dalam mendorong akselerasi pembangunan ekonomi. China menempuh strategi ganda yang sangat efektif dengan membangun infrastruktur ekonomi dan pendidikan secara bersamaan.

Di bidang ekonomi, pemerintah China menciptakan lingkungan makroekonomi yang dinamis dan kondusif untuk menarik investasi baik domestik maupun asing, terutama melalui foreign direct investment (FDI). Industri manufaktur dibangun secara masif untuk menopang pertumbuhan. Pusat-pusat bisnis dan perdagangan dikembangkan dengan jaringan luar negeri yang tertata rapi, sehingga memacu pergerakan aktivitas bisnis dan perdagangan yang sangat prospektif. Maka, dalam waktu yang tak terlalu lama, China berkembang menjadi negara terbuka bagi pasar global dan investor-investor asing yang memberi kontribusi pada dinamika pertumbuhan ekonomi di negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu.

Strategi pembangunan ekonomi pun diperkuat melalui apa yang disebut special economic development zones, dengan menjadikan suatu wilayah tertentu sebagai pusat pertumbuhan. Wilayah-wilayah tersebut antara lain Shenzhen, Zhuhai, Shantou, Xianmen, Hainan, Shanghai, Dalian, Guangzhou, Tianjin, Zhanjiang, dan masih banyak lagi.

Sejalan dengan itu, China juga membangun sebanyak 15 zona perdagangan bebas, 32 zona pembangunan teknologi-ekonomi setingkat-negara, dan 53 zona pembangunan industri berteknologi tinggi di sejumlah kota besar dan menengah. Pemerintah pusat di Bejing kemudian mendorong setiap wilayah tersebut untuk saling berkompetisi menarik pulang tenaga-tenaga terdidik dan berbakat dengan menawarkan aneka insentif seperti pemotongan pajak, pemberian kredit lunak untuk berbisnis, kemudahan izin usaha, pembebasan biaya perkantoran, fasilitas perumahan yang baik, dan promosi yang lebih cepat.

Sampai saat ini lebih dari 110 macam special zones dan industrial parks telah dibangun dan khusus diperuntukkan bagi para returnees. Bahkan lebih dari 6.000 jenis usaha telah dibuka di lokasi-lokasi tersebut yang mempekerjakan lebih dari 15.000 returnees.

Setelah melihat basis infrastruktur ekonomi yang mulai tertata baik, orang-orang terdidik China yang bekerja di luar negeri secara bergelombang mulai pulang kembali ke Tanah Air. Mereka bekerja sebagai eksekutif profesional di berbagai perusahaan swasta atau merintis dan mengembangkan bisnis sendiri, bahkan tidak sedikit pula yang bekerja di kantor-kantor pemerintah. Saksikan, hampir semua lembaga finansial utama China seperti Central Bank dan Securities Regulatory Commission dipenuhi oleh tenaga-tenaga ahli berpendidikan dan berpengalaman kerja di luar negeri.

Para tenaga ahli berpendidikan luar negeri tersebut menjadi semakin yakin atas pilihan kebijakan pemerintah dalam membangun perekonomian nasional karena banyak sekali pusat-pusat bisnis dan perusahaan-perusahaan swasta berteknologi tinggi beroperasi di China yang masuk dalam daftar NASDAQ di Amerika Serikat (AS). Dengan bekal pengalaman kerja selama bertahun-tahun di berbagai multinational corporations (MNCs), mereka kembali ke China untuk berkontribusi dalam membangun dan memperkuat sistem serta aktif dalam proses perumusan kebijakan publik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Hal yang membuat mereka bersemangat pulang adalah tawaran gaji yang besar. Dengan bergelar MBA dari universitas-universitas prestisius di AS, mereka bisa memperoleh gaji dua-tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang berpendidikan dalam negeri.

Di bidang pendidikan, China membangun banyak sekali universitas berkelas dunia untuk mendidik tenaga-tenaga ahli bidang kedokteran, pertanian, ekonomi/manajemen, teknologi informasi/komunikasi, teknologi industri, bisnis/keuangan, dan lain-lain. Bayangkan, pada 2005 China mampu melahirkan sarjana sains dan keteknikan sebanyak 700.000, 11 kali lipat melampaui AS yang hanya 60.000. Tidak berlebihan bila China bercita-cita memiliki paling kurang 100 perguruan tinggi terbaik dunia sampai akhir abad ke-21 nanti, sehingga negara ini akan menjadi kiblat baru pendidikan di luar AS dan Eropa.

Untuk itu, pemerintah China mengalokasikan dana sebesar US$125 juta bagi 10 universitas terbaik dan US$225 per tahun khusus untuk dua universitas yang masuk 25 besar dunia yakni Beijing dan Tsing-Hua sebagai percontohan. Selain itu, pemerintah China juga membangun banyak sekali pusat-pusat penelitian dan pengembangan (research and development) guna memfasilitasi para ilmuwan dan peneliti, untuk melakukan penelitian ilmiah baik untuk keperluan akademik maupun riset terapan guna menopang pengembangan industri.

Dengan begitu, mereka lebih menekuni profesi dalam pengembangan sains dan keilmuan, sehingga tak ada waktu untuk memikirkan masalah politik apalagi melakukan demonstrasi dan protes massal. Untuk menarik pulang para ilmuwan bergelar PhD yang bekerja sebagai pengajar/peneliti di universitas luar negeri, pemerintah China menawarkan gaji yang tak kalah menggiurkan. Bagi ahli ekonomi dengan pengalaman kerja antara 5-10 tahun, misalnya, disediakan gaji antara US$30.000,00 sampai US$50.000,00, ditambah fasilitas perumahan dan berbagai tunjangan lain (kesehatan, transportasi, liburan).

Dunia mengetahui, peletak dasar strategi kebijakan ini adalah Deng Xiaoping yang dijuluki sebagai capitalist roader yakni sosok penganut setia ideologi sosialisme ortodoks yang menggerakkan proses revolusi sosial-politik, tetapi kemudian berbalik arah dan menempuh jalan kapitalisme dengan menyerap–baik terus-terang maupun tersembunyi–nilai-nilai ideologi kapitalisme, untuk melakukan restorasi politik dan ekonomi berdasarkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme pasar. Pada 1980-an, Deng mengirim anak-anak muda berbakat ke negara-negara kapitalis Barat untuk sekolah dengan keyakinan bahwa sekalipun hanya sedikit saja dari mereka yang pulang kembali, pasti akan membawa dampak pada transformasi sosial ekonomi China di masa mendatang. Deng lalu memerintahkan Menteri Pendidikan, ketika itu Zhao Ziyang, yang kemudian menjadi Sekjen PKC dan perdana menteri, untuk merumuskan blue print dengan menekankan apa yang disebut store brain power overseas. Kebijakan ini berjalin kelindan dengan reformasi ekonomi yang ditempuh dengan menganut pasar terbuka dan perdagangan bebas, yang ditandai oleh bergabungnya China ke dalam World Trade Organization (WTO).

Dalam tempo dua dekade kemudian, kombinasi kedua strategi kebijakan tersebut benar-benar mengantarkan China pada kemajuan ekonomi sangat dahsyat, yang oleh banyak ahli dilukiskan sebagai bentuk quantum leap in economic development seperti tercermin pada rata-rata pertumbuhan ekonomi sekitar 8%-9% per tahun.

Pemimpin China telah bertukar generasi, namun penguasa baru tetap meneruskan kebijakan dasar warisan Deng Xiaoping. Mereka terus memacu pembangunan ekonomi nasional dengan menarik pulang ilmuwan-ilmuwan berbakat, akademisi-akademisi bereputasi internasional, ahli-ahli ekonomi terpandang, dan pengusaha-pengusaha berkelas dunia terutama yang bergerak di bidang industri teknologi tinggi. Menurut laporan kantor berita Xinhua, sekitar 250 ilmuwan terkemuka yang memimpin dan mengelola pusat-pusat pengembangan sains dan teknologi nasional adalah para returnees dari Amerika dan Eropa. Dengan pilihan strategi demikian, China telah berada pada jalur yang benar dan mulai memetik serta menikmati brain gain yang memberi kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi yang spektakuler itu.

Ditulis dalam Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Comments »

Tarif Jasa Telpon Seluler: “Operarator Kecil justru akan Tersingkir bila TELKOMSEL menurunkan tarif jasanya”

Posted by sroestam pada 1 Februari 2008

Menarik sekali pernyataan Bapak Menneg BUMN tersebut diatas di Koran Bisnis Indonesia Jumat, 1 Feb 2008, perihal Perintah KPPU agar TELKOMSEL, INDOSAT dan XL menurunkan tarif jasa mereka.

Analisisnya, bila perintah KPPU untuk menurunkan tarif Jasa Telpon Seluler TELKOMSEL dilaksanakan, maka Operator Kecil Seluler menjadi makin tidak kompetitif terhadap layanan jasa TELKOMSEL, sebab para pelanggan akan lebih memilih TELKOMSEL karena tariff-nya diturunkan, serta jangkauannya jauh lebih luas dari pada Operator Seluler lainnya.

Apakah analisis diatas benar-benar bakal terjadi kalau Perintah KPPU agar Telkomsel (dan Indosat dan XL) menurunkan tarif jasa seluler mereka, dengan situasi dan kondisi saat ini di Indonesia?

Pernyataan Bapak Menneg BUMN ini juga tidak sejalan dengan pernyataan Bapak MenKominfo saat memberikan Keynote Speech kemarin pagi di acara pembukaan Seminar Sehari: “ICT Outlook 2008” di Hotel Nikko, Jakarta, dimana beliau menyatakan bahwa bila semua harga2 kedelai, minyak tanah, bensin, beras dll punya kecenderungan naik, maka Tariff Jasa Telekomunikasi beliau pastikan akan makin turun! Pernyataan Bapak MenKominfo ini mendapat aplause panjang dari hadirin.

Kami paham sekali bilamana Bapak Mennegf BUMN selaku Penanggunjawab Perusahaan2 BUMN Indonesia menginginkan agar tariff jasa Telekomunikasi diturunkan, sebab Dividen atau Setoran ke Pemerintah bakal turun drastis. Apalagi Pemerintah sudah mematok setoran BUMN2 itu sebesar Rp 31 Trilyun untuk tahun 2008.

Secara jangka pendek memang mempertahankan tarif jasa Telekomunikasi tetap tinggi adalah menguntungkan bagi Pemerintah, namun merugikan pemakai jasa.

Secara jangka panjang, mempertahankan tarif jasa telekomunikasi tetap tinggi akan merugikan kepentingan bangsa ini dalam bentuk:

  1. Lambatnya traffic growth jasa-jasa telekomunikasi.
  2. Kurang cepatnya pemanfaatan jasa2 Telematika (TIK) untuk percepatan pembangunan perekonomian bangsa, sebab tarif mahal akan menghambat adopsi penggunaan jasa2 itu.
  3. Masyarakat dirugikan, sebab tidak menikmati layanan jasa dengan tarif yang wajar. Dalam keputusan KPPU, kerugian masyarakat selama 3-4 tahun mencapai Rp 30 Trilyun, dan harus dibayarkan kembali.
  4. Dampak negatif sosial-ekonomi lainnya akibat tarif bertahan pada nilai yang tetap tinggi.

Silahkan kawan2 sekalian memberikan saran atau pendapat masing-masing,
demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara.

Ditulis dalam Tarif Jasa Telpon Seluler | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

Korea saja bisa, apalagi Indonesia!

Posted by sroestam pada 26 Januari 2008

Judul tulisan diatas dibuat oleh Koh Young Hun, Profesor di Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea, oleh karena tingginya harapan beliau bahwa suatu saat Indonesia akan mencapai kejayaannya. Informasi ini saya dapat dari Milis APWKomitel yang di-moderati oleh Pak Rudi Rusdiah, sbb:

Sabtu, 26 januari 2008 | 02:17 WIB

Koh Young Hun
Tiga puluh tahun yang lalu mengatakan: “saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama”.

Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea (Korsel) memilih presiden baru, yaitu Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang akan memulai lima tahun masa jabatannya pada 25 Februari mendatang. MB berjanji bahwa dalam masa jabatannya Korea akan lebih maju dengan wawasan 7-4-7, yang berisikan bahwa 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun, 40.000 dollar AS pendapatan per kapita, dan negara ke-7 terbesar dari segi ekonominya (sekarang ke-11 terbesar). Pada hemat saya, Indonesia juga bisa, karena negara ini punya kemampuan.

Ciri utama yang mewarnai negara berkembang, dan merupakan musuh utama yang harus kita kalahkan, ialah kebodohan dan kemalasan yang keduanya adalah cikal bakal yang melahirkan kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih dahulu mampu
menghilangkan dua sifat buruk itu, maka dialah yang akan dengan cepat dapat meraih kemajuan dan kemakmuran bangsanya.

Dalam teori pembangunan, sebagaimana ditulis Steven J Rosen dalam bukunya, The Logic of International Relation, dikenal dua aliran pendapat tentang
sebab-sebab keterbelakangan negara-negara berkembang, di mana kedua aliran pendapat itu secara prinsip sangat berbeda satu dengan yang lain. Dalam hal ini, Indonesia dan Korea memiliki pandangan yang sama, yakni menganut paham tradisional; menganggap bahwa proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya kemubaziran dan ketidakefisiensian sosial. Aliran ini berpendapat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor-faktor
internal. Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.

Adapun aliran yang lain, ialah aliran radikal, memandang kemiskinan dan keterbelakangan suatu negara (terutama negara ketiga) disebabkan oleh kondisi
internasional, yakni adanya eksploitasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang. Namun, dalam hal ini saya beranggapan bahwa teori ini cenderung selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayu-nya, karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan.
Etos Kerja Korea

Kita semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma
menjadi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang telah mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris. Kemajuan Korea ini telah membuat banyak orang berdecak, terpukau seperti melihat keajaiban sebuah mukjizat. Para pakar bertanya-tanya, resep apa gerangan yang telah membuat bangsa yang terubah menjadi negara dan bangsa yang makmur? Sejak awal tahun 1970-an pihak Pemerintah Korea
dalam rangka semangat pembangunan nasional telah berusaha membentuk tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas. Pertama, ”sikap rajin bekerja”. Lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya pekerjaan itu, tinimbang pidato yang muluk-muluk tetapi tiada pelaksanaannya.

Kedua, ”sikap hemat”, yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi. Ketiga, ”sikap self-help”, yang didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat; berusaha mengembangkan
sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, kooperasi atau kerja sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, dan mempersatukan individu serta masyarakatnya.
Inilah picu laras yang memacu jiwa kerja bangsa Korea. Bila kita perhatikan, keempat
butir nilai itu sesungguhnya adalah nilai luhur bangsa Indonesia.
Rajin pangkal pandai...” dan ”sedikit bicara banyak kerja” adalah pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.
Adapun nilai self-help, mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian
besar masyarakat Indonesia, karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu
bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri. Sedangkan setiap usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam telah memberinya nilai tambah; digolongkan pada perbuatan ibadah.

Sementara sifat yang terakhir, kerjasama, adalah sendi-sendi budaya Indonesia yang amat menonjol. Kooperasi atau gotong royong tetap dipelihara dan dilestarikan.

Burung garuda
Sebagai penutup, saya ingin sedikit mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung.
Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut.
”Ah!” pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. ”Sungguh mengherankan burung garuda itu!” ujarnya kepada pemburu. ”Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!” balas sang pemburu mantap.
”Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!” bantah si ahli unggas itu. Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.
”Betul, kan?” ujar si pemburu. ”Dia bukan garuda lagi!”
Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali
garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.
Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut
membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: ”Garuda, dalam
tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membubunglah!” Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.
Nah, barangkali cerita ini ada persamaannya dengan bangsa Indonesia. Bukti kejayaan masa lampau telah membuat mata dunia takjub. Borobudur satu bukti karya perkasa. Kini camkanlah bahwa Anda sekalian mampu, Anda punya kemampuan. Korea saja
bisa, apalagi Indonesia.

=================================

Ditulis dalam Korea bisa apalagi Indonesia | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.