Strategi Nasional Indonesia

Forum Diskusi Strategi Nasional Indonesia

  • November 2015
    M T W T F S S
    « Sep    
  • Arsip

  • Meta

  • Web Counter

  • RSS Tech News Headlines – Yahoo News

    • EU wants to give national privacy regulators more clout in new U.S. data pact 27 November 2015
      By Julia Fioretti BRUSSELS (Reuters) - The European Union wants to enhance the power of the bloc's national privacy regulators in policing a planned new EU-U.S. data pact after the previous one was struck down by a top EU court on concerns about mass U.S. surveillance. Brussels and Washington are locked in negotiations to forge a new framework enabling […]
    • NSA to shut down bulk phone surveillance program by Sunday 27 November 2015
      By Dustin Volz WASHINGTON (Reuters) - The U.S. National Security Agency will end its daily vacuuming of millions of Americans' phone records by Sunday and replace the practice with more tightly targeted surveillance methods, the Obama administration said on Friday. As required by law, the NSA will end its wide-ranging surveillance program by 11:59 p.m. […]
    • Digital toy maker VTech says customer data stolen in breach 28 November 2015
      Electronic toymaker VTech Holdings Ltd said on Friday that it was the victim of a cyber attack that compromised information about customers who access a portal for downloading children's games, books and other educational content.
    • Facebook makes paid time off for baby leave a global benefit 28 November 2015
      Less than a week after Facebook Chief Executive Mark Zuckerberg said he would take two months of paternity leave, the social media company announced it is extending its parental leave policy to full-time employees outside the United States. Employees may take leave at any point up to a year after the birth of their child, Lori Matloff Goler, the company […]
    • Musk's Tesla faces German battle over battery-powered homes 27 November 2015
      By Vera Eckert and Christoph Steitz FRANKFURT (Reuters) - If Elon Musk's vision of millions of households producing all their own power becomes a reality, it will probably happen first in Germany. The South African-born entrepreneur's company Tesla, best known for its electric cars, sparked global interest in the idea of self-powered homes in April […]
    • Neiman Marcus website suffers outage on Black Friday: CNBC 27 November 2015
      (Reuters) - Shoppers looking for deals on upscale retailer Neiman Marcus's website were left largely empty-handed after the site suffered an outage on Black Friday, CNBC reported. The Neiman Marcus homepage has been mostly unavailable since 8 am ET on Friday, CNBC reported, citing data from website performance monitor Catchpoint Systems. Neiman Marcus s […]
    • Potential Google Glass 2.0 design revealed and it still looks ridiculous 28 November 2015
      I can see the use case for Google Glass in certain industries. If you’re a surgeon, for example, I can imagine it would be useful having an eyepiece giving you real-time data while you’re in the middle of the operation. But when it comes to being something that the average person will wear with them at all times, it is just not going to work. I saw a guy wea […]
    • A new patent reveals how Google's self driving cars could talk to pedestrians 28 November 2015
      As Google works towards the dream of the total driverless car, one of the problems that has been cropping up is that the vehicles are, by design, very defensive drivers. Earlier this week Google received a patent that lays out some of its ideas for how driverless cars might communicate with the pedestrians around them, allowing the vehicles to broadcast thei […]
    • LG investment adds new fuel to reports that Apple is planning an OLED iPhone 28 November 2015
      Remember all the recent reports saying that while the iPhone 7 won’t have an OLED display, it’s likely that Apple will come out with an OLED iPhone by 2018? Now, there’s one more hint that Apple’s iPhone is about to go OLED when it comes to screen technology: LG confirmed that it will invest no less than $8.4 billion in a new OLED plant that seems to suggest […]
    • Sony is bringing PS4 Remote Play to PC and Mac 28 November 2015
      At E3 2015, Microsoft dropped a bombshell: backward compatibility was coming to Xbox One. The feature was finally implemented after the New Xbox One Experience launched earlier this month, and PlayStation 4 owners were left wondering when Sony might try to do something similar. DON’T MISS: Brand-new Star Wars TV spot is all about the Dark Side Unfortunately, […]
  • Halaman

Archive for the ‘Kenaikan Harga Minyak Dunia: Fundamental atau Spekulasi’ Category

Lonjakan Harga Minyak, Fundamental atau Spekulasi?

Posted by sroestam pada 7 Juli 2008

Harga minyak hampir menyentuh US$140/barel pada 16 Juni 2008. Harga minyak naik sejak awal 2002 dari US$20 dan menembus US$50-an per barel pada 2005. Sejak Januari 2007 sampai sekarang, harga minyak melonjak tajam ke US$130-an. Kenaikan harga minyak saat ini kontradiktif dengan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. Timbul pertanyaan: apakah kenaikan harga minyak terjadi karena perubahan faktor fundamental atau semata-mata karena spekulasi?

Pada 2008, harga minyak bertahan di atas US$90/barel, jauh di atas harga periode 1986-1999 yang hampir selalu di bawah US$20/barel. Bahkan, pada saat krisis Asia 1997-1998, harga minyak rata-rata sekitar US$15/barel.

Harga minyak yang rendah menyebabkan investasi di sektor minyak tidak menarik. Rata-rata pertumbuhan produksi minyak sepanjang periode 1991-2002 sekitar 1,24% per tahun, di bawah pertumbuhan konsumsi minyak dunia. Bahkan, pada 1999 dan 2002, produksi minyak turun 1% per tahun akibat resesi ekonomi dunia.

Sejalan kenaikan harga, produksi minyak sempat naik pada 2003 dan 2004 masing-masing 3,4% dan 4,4% per tahun. Sayangnya memasuki 2005 sampai 2007, produksi kembali stagnan. Data produksi 2007 memperlihatkan penurunan produksi minyak dari negara penghasil utama.

Meskipun negara penghasil minyak utama lain, seperti Rusia, Kanada, dan Brasil menambah produksinya, secara keseluruhan produksi minyak 2007 turun sekitar 0,2% (BP Statistical Review of World Energy, Data kuartal pertama memperlihatkan penurunan produksi berlanjut pada 2008 meskipun harga naik tajam.

Sementara kapasitas produksi minyak sangat terbatas, permintaan minyak pada era 2000-an mengalami lonjakan tajam sejalan kuatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Pada periode 1990-2002, rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia adalah 2,9% per tahun.

Negara-negara industri baru Asia dan Timur Tengah menyumbang sekitar 60% pertumbuhan konsumsi minyak pada era 2003-2006. Sangat kontras dengan negara OECD yang mengonsumsi rata-rata 60% minyak dunia, tetapi kontribusinya pada pertumbuhan konsumsi minyak periode 2003-2006 hanya 10%.

Hampir 40% pertumbuhan permintaan minyak era 2000-an berasal dari konsumsi minyak China. Pada 2000, konsumsi minyak China sekitar 4,8 juta barel/hari, konsumen nomor tiga dunia setelah AS (19,7 juta barel/hari) dan Jepang (5,5 juta barel/hari). Pada 2006, China mengonsumsi 7,2 juta barel/hari dan menjadi konsumen minyak nomor dua dunia, mengalahkan Jepang (5,2 juta barel per hari).

Fakta interaksi penawaran dan permintaan tersebut menunjukkan sebagian besar kenaikan harga minyak periode 2003-2007 dapat dijelaskan oleh faktor fundamental.

Fenomena moneter

AS menghasilkan sekitar 25% output dunia dan juga mengonsumsi sekitar 25% dari total konsumsi minyak dunia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi AS akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi dunia akan menurunkan permintaan minyak, sehingga harga minyak idealnya turun. Berhubung harga minyak naik dengan cepat pada 2007-2008, fenomena selain faktor fundamental permintaan dan permintaan riil lebih relevan untuk menjelaskannya.

Bandingkan kenaikan harga minyak dalam mata uang dolar AS dan euro. Dari awal 2002 sampai akhir Mei 2008, harga minyak dalam dolar AS naik dari US$21 ke US$127 per barel, total kenaikan sekitar 505%. Dalam mata uang euro, kenaikan harga minyak untuk periode yang sama dari 23 euro menjadi 82 euro per barel, kenaikan sebesar 256%. Selisih kenaikan harga minyak dalam dolar AS dengan euro hampir 250%.

Kenaikan harga minyak dalam dolar AS lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kenaikan dalam euro. Dari sisi moneter, ini berarti sebagian kenaikan harga minyak dalam dolar AS disebabkan oleh penurunan daya beli dolar AS. Harga komoditas mengalami inflasi, sebaliknya dolar AS mengalami deflasi.

Penurunan daya beli dolar AS berlanjut ketika Federal Reserve menurunkan suku bunga Fed Fund Rate secara agresif dari 5,25% pada akhir Agustus 2007 menjadi 2% pada April 2008.

Dolar AS melemah tajam terhadap mata uang lain, mendorong investor melakukan hedging dengan berinvestasi di komoditas, termasuk minyak. Harga komoditas pun naik dengan cepat.

Pelemahan dolar AS sangat berpengaruh pada keseimbangan moneter dunia karena baik cadangan devisa dunia-sekitar 65% pada 2006-dan perdagangangan dunia menggunakan dolar AS. Oleh karena itu, ekspansi moneter oleh The Fed dan pelemahan dolar AS cenderung menyebabkan inflasi global.

Kenaikan harga minyak akibat kebijakan moneter longgar USA ini sering disebut faktor spekulasi pada penentuan harga minyak. Pada kenyataannya, kebijakan moneter juga faktor fundamental.

Jelaslah faktor fundamental, seperti penawaran, permintaan, dan kebijakan moneter, menjadi penentu utama pergerakan harga minyak. Namun, mengapa banyak pihak menunjuk investor komoditas sebagai spekulan penyebab kenaikan harga? Mengapa pada saat harga minyak turun drastis pada 1986-2001 tidak ada yang berkata “spekulan adalah pahlawan yang menurunkan harga minyak?”

Ada dua faktor utama yang menyebabkan pemerintah menyalahkan spekulan sebagai penyebab kenaikan harga minyak dan komoditas lain. Pertama, peningkatan jumlah investor dan dana yang masuk ke pasar komoditas mempermudah bukti secara empiris, melengkapi teori konspirasi spekulan yang rakus.

Kedua, dan ini yang lebih mungkin, pemerintah AS ingin cuci tangan dari kegagalan menerapkan disiplin moneter. Pemerintah AS, dan juga Eropa, ingin cuci tangan dari kenaikan harga komoditas pangan (seperti beras, gandum, gula, dan minyak sayur) akibat kebijakan subsidi besar pada industri bahan bakar nabati (biofuel) yang merusak komposisi produksi bahan pangan dunia.

Pemerintah Indonesia pun untuk menutupi kegagalan kebijakan energi dan pangan nasional cenderung mengambinghitamkan faktor global kenaikan harga komoditas.

Oleh Siswa Rizali
Ekonom dan Manajer Investasi pada NISP Sekurita

Posted in Kenaikan Harga Minyak Dunia: Fundamental atau Spekulasi | Dengan kaitkata: , | 1 Comment »


Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.