Strategi Nasional Indonesia

Forum Diskusi Strategi Nasional Indonesia

  • September 2016
    S S R K J S M
    « Sep    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Arsip

  • Meta

  • Web Counter

  • RSS Tech News Headlines – Yahoo News

    • German regulator orders Facebook to delete WhatsApp user data 27 September 2016
      A German privacy regulator ordered Facebook on Tuesday to stop collecting and storing data of German users of its messaging app WhatsApp and to delete all data that has already been forwarded to it. The Hamburg Commissioner for Data Protection and Freedom of Information said Facebook was infringing data protection law and had not obtained effective approval […]
    • Twitter could take many forms, depending on new owner 27 September 2016
      With speculation mounting that Twitter Inc will soon have a new corporate owner, the 10-year-old social networking service - which has long struggled to define its core purpose -may end up heading in one of several distinctly different directions depending on who ends up paying for it. Companies including Salesforce.com Inc , Walt Disney Co and Alphabet Inc […]
    • Microsoft and BAML team up on blockchain-based trade finance project 27 September 2016
      Microsoft and Bank of America Merrill Lynch have joined forces on a project to use blockchain technology to make trade finance transactions faster, cheaper, safer and more transparent, the companies said on Tuesday. The two multinationals said at the Sibos financial services conference in Geneva that they would build and test the technology and create a bloc […]
    • Samsung recovers over 60 percent of recalled Note 7s in South Korea, U.S. 27 September 2016
      Samsung Electronics Co said on Tuesday it has got back more than 60 percent of recalled Galaxy Note 7 smartphones sold in South Korea and the United States, suggesting it is making progress in its attempts to recover from the crisis. In a statement, Samsung said it was focused on replacing all affected devices "as quickly and efficiently" as possib […]
    • Google launches service to take internet to India malls, cafes 27 September 2016
      Google, a unit of Alphabet Inc, said on Tuesday it launched Google Station in India, a service that aims to deepen its reach across the country, as the search giant seeks to bring more people on to its Google platform. Under the service, Google will roll-out Wi-Fi hot spots in places frequented by a large number of people, such as malls and transit stations, […]
    • German carmakers and technology firms form 5G telecoms association 27 September 2016
      German car makers Audi, BMW and Daimler on Tuesday launched an alliance with mobile telecoms network equipment firms Ericsson , Huawei [HWT.UL], Intel , Nokia and Qualcomm to accelerate development of the infrastructure needed for self-driving cars. The new alliance, branded the 5G Automotive Association, will "develop, test and promote communications s […]
    • Germany blocks WhatsApp data transfers to Facebook 27 September 2016
      German data protection authorities on Tuesday said they had blocked Facebook from collecting subscriber data from its subsidiary WhatsApp, citing privacy concerns. Facebook and WhatsApp promised in the wake of the Silicon Valley giant's 2014 acquisition of the messaging app that they would not share data, Hamburg's Commissioner for Data Protection […]
    • First Click: Night mode is the greatest 27 September 2016
      Not one of them has felt like it's overwhelmed or in any way spoiled the image of what I'm seeing — night shift only warms up the hues, it doesn't detract from the screen's sharpness. More than 60 percent of defective Galaxy Note 7 smartphones sold in the United States and South Korea have now been returned and exchanged for new models, S […]
    • Hate standing in line? Japan now has self-driving chairs 27 September 2016
      Tokyo (AFP) - Hate standing in line at your favourite restaurant? Japanese carmaker Nissan claims to have just the thing for those sore legs.
    • Germany orders Facebook to stop collecting data on WhatsApp users 27 September 2016
      Facebook has been ordered to stop collecting and storing data on WhatsApp users in Germany, marking the first regulatory challenge to a controversial data-sharing scheme that the social media company announced in August. In a statement published Tuesday, Germany's privacy watchdog said that sharing WhatsApp user data with Facebook, the messaging app […]
  • Laman

Archive for the ‘Kenaikan Harga Minyak Dunia: Fundamental atau Spekulasi’ Category

Lonjakan Harga Minyak, Fundamental atau Spekulasi?

Posted by sroestam pada 7 Juli 2008

Harga minyak hampir menyentuh US$140/barel pada 16 Juni 2008. Harga minyak naik sejak awal 2002 dari US$20 dan menembus US$50-an per barel pada 2005. Sejak Januari 2007 sampai sekarang, harga minyak melonjak tajam ke US$130-an. Kenaikan harga minyak saat ini kontradiktif dengan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. Timbul pertanyaan: apakah kenaikan harga minyak terjadi karena perubahan faktor fundamental atau semata-mata karena spekulasi?

Pada 2008, harga minyak bertahan di atas US$90/barel, jauh di atas harga periode 1986-1999 yang hampir selalu di bawah US$20/barel. Bahkan, pada saat krisis Asia 1997-1998, harga minyak rata-rata sekitar US$15/barel.

Harga minyak yang rendah menyebabkan investasi di sektor minyak tidak menarik. Rata-rata pertumbuhan produksi minyak sepanjang periode 1991-2002 sekitar 1,24% per tahun, di bawah pertumbuhan konsumsi minyak dunia. Bahkan, pada 1999 dan 2002, produksi minyak turun 1% per tahun akibat resesi ekonomi dunia.

Sejalan kenaikan harga, produksi minyak sempat naik pada 2003 dan 2004 masing-masing 3,4% dan 4,4% per tahun. Sayangnya memasuki 2005 sampai 2007, produksi kembali stagnan. Data produksi 2007 memperlihatkan penurunan produksi minyak dari negara penghasil utama.

Meskipun negara penghasil minyak utama lain, seperti Rusia, Kanada, dan Brasil menambah produksinya, secara keseluruhan produksi minyak 2007 turun sekitar 0,2% (BP Statistical Review of World Energy, http://www.bp.com). Data kuartal pertama memperlihatkan penurunan produksi berlanjut pada 2008 meskipun harga naik tajam.

Sementara kapasitas produksi minyak sangat terbatas, permintaan minyak pada era 2000-an mengalami lonjakan tajam sejalan kuatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Pada periode 1990-2002, rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia adalah 2,9% per tahun.

Negara-negara industri baru Asia dan Timur Tengah menyumbang sekitar 60% pertumbuhan konsumsi minyak pada era 2003-2006. Sangat kontras dengan negara OECD yang mengonsumsi rata-rata 60% minyak dunia, tetapi kontribusinya pada pertumbuhan konsumsi minyak periode 2003-2006 hanya 10%.

Hampir 40% pertumbuhan permintaan minyak era 2000-an berasal dari konsumsi minyak China. Pada 2000, konsumsi minyak China sekitar 4,8 juta barel/hari, konsumen nomor tiga dunia setelah AS (19,7 juta barel/hari) dan Jepang (5,5 juta barel/hari). Pada 2006, China mengonsumsi 7,2 juta barel/hari dan menjadi konsumen minyak nomor dua dunia, mengalahkan Jepang (5,2 juta barel per hari).

Fakta interaksi penawaran dan permintaan tersebut menunjukkan sebagian besar kenaikan harga minyak periode 2003-2007 dapat dijelaskan oleh faktor fundamental.

Fenomena moneter

AS menghasilkan sekitar 25% output dunia dan juga mengonsumsi sekitar 25% dari total konsumsi minyak dunia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi AS akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi dunia akan menurunkan permintaan minyak, sehingga harga minyak idealnya turun. Berhubung harga minyak naik dengan cepat pada 2007-2008, fenomena selain faktor fundamental permintaan dan permintaan riil lebih relevan untuk menjelaskannya.

Bandingkan kenaikan harga minyak dalam mata uang dolar AS dan euro. Dari awal 2002 sampai akhir Mei 2008, harga minyak dalam dolar AS naik dari US$21 ke US$127 per barel, total kenaikan sekitar 505%. Dalam mata uang euro, kenaikan harga minyak untuk periode yang sama dari 23 euro menjadi 82 euro per barel, kenaikan sebesar 256%. Selisih kenaikan harga minyak dalam dolar AS dengan euro hampir 250%.

Kenaikan harga minyak dalam dolar AS lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kenaikan dalam euro. Dari sisi moneter, ini berarti sebagian kenaikan harga minyak dalam dolar AS disebabkan oleh penurunan daya beli dolar AS. Harga komoditas mengalami inflasi, sebaliknya dolar AS mengalami deflasi.

Penurunan daya beli dolar AS berlanjut ketika Federal Reserve menurunkan suku bunga Fed Fund Rate secara agresif dari 5,25% pada akhir Agustus 2007 menjadi 2% pada April 2008.

Dolar AS melemah tajam terhadap mata uang lain, mendorong investor melakukan hedging dengan berinvestasi di komoditas, termasuk minyak. Harga komoditas pun naik dengan cepat.

Pelemahan dolar AS sangat berpengaruh pada keseimbangan moneter dunia karena baik cadangan devisa dunia-sekitar 65% pada 2006-dan perdagangangan dunia menggunakan dolar AS. Oleh karena itu, ekspansi moneter oleh The Fed dan pelemahan dolar AS cenderung menyebabkan inflasi global.

Kenaikan harga minyak akibat kebijakan moneter longgar USA ini sering disebut faktor spekulasi pada penentuan harga minyak. Pada kenyataannya, kebijakan moneter juga faktor fundamental.

Jelaslah faktor fundamental, seperti penawaran, permintaan, dan kebijakan moneter, menjadi penentu utama pergerakan harga minyak. Namun, mengapa banyak pihak menunjuk investor komoditas sebagai spekulan penyebab kenaikan harga? Mengapa pada saat harga minyak turun drastis pada 1986-2001 tidak ada yang berkata “spekulan adalah pahlawan yang menurunkan harga minyak?”

Ada dua faktor utama yang menyebabkan pemerintah menyalahkan spekulan sebagai penyebab kenaikan harga minyak dan komoditas lain. Pertama, peningkatan jumlah investor dan dana yang masuk ke pasar komoditas mempermudah bukti secara empiris, melengkapi teori konspirasi spekulan yang rakus.

Kedua, dan ini yang lebih mungkin, pemerintah AS ingin cuci tangan dari kegagalan menerapkan disiplin moneter. Pemerintah AS, dan juga Eropa, ingin cuci tangan dari kenaikan harga komoditas pangan (seperti beras, gandum, gula, dan minyak sayur) akibat kebijakan subsidi besar pada industri bahan bakar nabati (biofuel) yang merusak komposisi produksi bahan pangan dunia.

Pemerintah Indonesia pun untuk menutupi kegagalan kebijakan energi dan pangan nasional cenderung mengambinghitamkan faktor global kenaikan harga komoditas.

Oleh Siswa Rizali
Ekonom dan Manajer Investasi pada NISP Sekurita

Posted in Kenaikan Harga Minyak Dunia: Fundamental atau Spekulasi | Dengan kaitkata: , | 1 Comment »