Strategi Nasional Indonesia

Forum Diskusi Strategi Nasional Indonesia

  • September 2015
    S S R K J S M
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Arsip

  • Meta

  • Web Counter

  • RSS Tech News Headlines – Yahoo News

    • Automakers, Google take different roads to automated cars 4 September 2015
      By Paul Lienert and Joseph White DETROIT (Reuters) - From his laboratory at Pittsburgh's Carnegie Mellon University, automated vehicle pioneer Raj Rajkumar says self-driving cars will evolve step-by-step, with humans staying in charge for a long time to come. More than 2,500 miles west in Mountain View, California, Chris Urmson, head of Google Inc' […]
    • Justice Department tightens cellphone tracking rules 4 September 2015
      By Julia Edwards WASHINGTON (Reuters) - U.S. prosecutors and some federal law enforcement agencies will need to obtain a search warrant to use devices that track cellphone locations, under a policy announced by the U.S. Justice Department on Thursday. Until now, U.S. attorneys and Justice Department agencies, including the FBI and the Drug Enforcement Admini […]
    • Qualcomm president says splitting company may not create value 3 September 2015
      By Liana B. Baker NEW YORK (Reuters) - Qualcomm Inc's President Derek Aberle, under pressure from activist hedge fund Jana Partners to improve the licensing and chip design firm's stock performance, on Thursday sounded a cautionary note about a potential breakup of the company. Stressing that the board and management do not expect to complete a rev […]
    • Extra screen time drags down teenagers' exam grades, study finds 3 September 2015
      By Kate Kelland LONDON (Reuters) - Teenagers who spend an extra hour a day surfing the internet, watching TV or playing computer games risk performing two grades worse in exams than their peers who don't, according to research by British scientists. In a study of more than 800 students aged 14 and 15, researchers from Cambridge University also found tha […]
    • Ex-Tesla engineer charged with illegally accessing employee evaluations 3 September 2015
      A former Tesla Motors engineer has been charged in federal court with felony computer intrusion for accessing his manager's email account, sharing employee evaluations with others and posting confidential information on the Web. Nima Kalbasi, a 28-year-old Canadian, then "tried to harm Tesla's reputation and credibility by making false and mis […]
    • Protesters condemn U.S. case over Rentboy.com male escort website 3 September 2015
      By Nate Raymond NEW YORK (Reuters) - Gay and civil rights activists gathered in downtown Brooklyn on Thursday to condemn the prosecution of the chief executive officer and six employees of male escort website Rentboy.com for promoting prostitution. About 50 protesters gathered outside the federal court where charges are pending against Rentboy.com CEO Jeffre […]
    • OSVR releasing upgraded VR headset development kit in October 4 September 2015
      OSVR, the Razer-backed virtual reality software platform, will be shipping a new iteration of its "hacker development kit" headset next month. Today, the group announced HDK 1.3, which is supposed to upgrade the headset's optics and display. There's no price for the new headset, but the previous model currently sells for $299, with previo […]
    • Drone crash interrupts US Open tennis match 4 September 2015
      A small black drone hovered over Louis Armstrong stadium during a US Open tennis match in New York Thursday night, before crashing into the stands and forcing play to be briefly interrupted. As the Associated Press reports, the drone crashed toward the end of a second round match between 26th-ranked Flavia Pennetta and Monica Niculescu. Play was interrupted […]
    • Rights groups rail against Twitter's Politwoops ban 4 September 2015
      Rights groups including the Electronic Frontier Foundation, Access, Free Press, and Human Rights Watch have joined in opposition to Twitter's recent crackdown on Politwoops, a network of sites that archived deleted tweets from politicians worldwide.
    • The best grime diss track of the year is about Pokémon cards 4 September 2015
      The UK grime scene has been an inspiration for some of North America's biggest rappers. Drake and Kanye West have made a point of showing their appreciation for its MCs and the music they produce: the former is friend with grime fixture Skepta and brought him on stage during a London set earlier this year, while Kanye enlisted the help of some of the sc […]
  • Halaman

Archive for the ‘Kenaikan Harga Minyak Dunia: Fundamental atau Spekulasi’ Category

Lonjakan Harga Minyak, Fundamental atau Spekulasi?

Posted by sroestam pada 7 Juli 2008

Harga minyak hampir menyentuh US$140/barel pada 16 Juni 2008. Harga minyak naik sejak awal 2002 dari US$20 dan menembus US$50-an per barel pada 2005. Sejak Januari 2007 sampai sekarang, harga minyak melonjak tajam ke US$130-an. Kenaikan harga minyak saat ini kontradiktif dengan penurunan pertumbuhan ekonomi dunia. Timbul pertanyaan: apakah kenaikan harga minyak terjadi karena perubahan faktor fundamental atau semata-mata karena spekulasi?

Pada 2008, harga minyak bertahan di atas US$90/barel, jauh di atas harga periode 1986-1999 yang hampir selalu di bawah US$20/barel. Bahkan, pada saat krisis Asia 1997-1998, harga minyak rata-rata sekitar US$15/barel.

Harga minyak yang rendah menyebabkan investasi di sektor minyak tidak menarik. Rata-rata pertumbuhan produksi minyak sepanjang periode 1991-2002 sekitar 1,24% per tahun, di bawah pertumbuhan konsumsi minyak dunia. Bahkan, pada 1999 dan 2002, produksi minyak turun 1% per tahun akibat resesi ekonomi dunia.

Sejalan kenaikan harga, produksi minyak sempat naik pada 2003 dan 2004 masing-masing 3,4% dan 4,4% per tahun. Sayangnya memasuki 2005 sampai 2007, produksi kembali stagnan. Data produksi 2007 memperlihatkan penurunan produksi minyak dari negara penghasil utama.

Meskipun negara penghasil minyak utama lain, seperti Rusia, Kanada, dan Brasil menambah produksinya, secara keseluruhan produksi minyak 2007 turun sekitar 0,2% (BP Statistical Review of World Energy, http://www.bp.com). Data kuartal pertama memperlihatkan penurunan produksi berlanjut pada 2008 meskipun harga naik tajam.

Sementara kapasitas produksi minyak sangat terbatas, permintaan minyak pada era 2000-an mengalami lonjakan tajam sejalan kuatnya pertumbuhan ekonomi dunia. Pada periode 1990-2002, rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia adalah 2,9% per tahun.

Negara-negara industri baru Asia dan Timur Tengah menyumbang sekitar 60% pertumbuhan konsumsi minyak pada era 2003-2006. Sangat kontras dengan negara OECD yang mengonsumsi rata-rata 60% minyak dunia, tetapi kontribusinya pada pertumbuhan konsumsi minyak periode 2003-2006 hanya 10%.

Hampir 40% pertumbuhan permintaan minyak era 2000-an berasal dari konsumsi minyak China. Pada 2000, konsumsi minyak China sekitar 4,8 juta barel/hari, konsumen nomor tiga dunia setelah AS (19,7 juta barel/hari) dan Jepang (5,5 juta barel/hari). Pada 2006, China mengonsumsi 7,2 juta barel/hari dan menjadi konsumen minyak nomor dua dunia, mengalahkan Jepang (5,2 juta barel per hari).

Fakta interaksi penawaran dan permintaan tersebut menunjukkan sebagian besar kenaikan harga minyak periode 2003-2007 dapat dijelaskan oleh faktor fundamental.

Fenomena moneter

AS menghasilkan sekitar 25% output dunia dan juga mengonsumsi sekitar 25% dari total konsumsi minyak dunia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi AS akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi dunia akan menurunkan permintaan minyak, sehingga harga minyak idealnya turun. Berhubung harga minyak naik dengan cepat pada 2007-2008, fenomena selain faktor fundamental permintaan dan permintaan riil lebih relevan untuk menjelaskannya.

Bandingkan kenaikan harga minyak dalam mata uang dolar AS dan euro. Dari awal 2002 sampai akhir Mei 2008, harga minyak dalam dolar AS naik dari US$21 ke US$127 per barel, total kenaikan sekitar 505%. Dalam mata uang euro, kenaikan harga minyak untuk periode yang sama dari 23 euro menjadi 82 euro per barel, kenaikan sebesar 256%. Selisih kenaikan harga minyak dalam dolar AS dengan euro hampir 250%.

Kenaikan harga minyak dalam dolar AS lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kenaikan dalam euro. Dari sisi moneter, ini berarti sebagian kenaikan harga minyak dalam dolar AS disebabkan oleh penurunan daya beli dolar AS. Harga komoditas mengalami inflasi, sebaliknya dolar AS mengalami deflasi.

Penurunan daya beli dolar AS berlanjut ketika Federal Reserve menurunkan suku bunga Fed Fund Rate secara agresif dari 5,25% pada akhir Agustus 2007 menjadi 2% pada April 2008.

Dolar AS melemah tajam terhadap mata uang lain, mendorong investor melakukan hedging dengan berinvestasi di komoditas, termasuk minyak. Harga komoditas pun naik dengan cepat.

Pelemahan dolar AS sangat berpengaruh pada keseimbangan moneter dunia karena baik cadangan devisa dunia-sekitar 65% pada 2006-dan perdagangangan dunia menggunakan dolar AS. Oleh karena itu, ekspansi moneter oleh The Fed dan pelemahan dolar AS cenderung menyebabkan inflasi global.

Kenaikan harga minyak akibat kebijakan moneter longgar USA ini sering disebut faktor spekulasi pada penentuan harga minyak. Pada kenyataannya, kebijakan moneter juga faktor fundamental.

Jelaslah faktor fundamental, seperti penawaran, permintaan, dan kebijakan moneter, menjadi penentu utama pergerakan harga minyak. Namun, mengapa banyak pihak menunjuk investor komoditas sebagai spekulan penyebab kenaikan harga? Mengapa pada saat harga minyak turun drastis pada 1986-2001 tidak ada yang berkata “spekulan adalah pahlawan yang menurunkan harga minyak?”

Ada dua faktor utama yang menyebabkan pemerintah menyalahkan spekulan sebagai penyebab kenaikan harga minyak dan komoditas lain. Pertama, peningkatan jumlah investor dan dana yang masuk ke pasar komoditas mempermudah bukti secara empiris, melengkapi teori konspirasi spekulan yang rakus.

Kedua, dan ini yang lebih mungkin, pemerintah AS ingin cuci tangan dari kegagalan menerapkan disiplin moneter. Pemerintah AS, dan juga Eropa, ingin cuci tangan dari kenaikan harga komoditas pangan (seperti beras, gandum, gula, dan minyak sayur) akibat kebijakan subsidi besar pada industri bahan bakar nabati (biofuel) yang merusak komposisi produksi bahan pangan dunia.

Pemerintah Indonesia pun untuk menutupi kegagalan kebijakan energi dan pangan nasional cenderung mengambinghitamkan faktor global kenaikan harga komoditas.

Oleh Siswa Rizali
Ekonom dan Manajer Investasi pada NISP Sekurita

Posted in Kenaikan Harga Minyak Dunia: Fundamental atau Spekulasi | Dengan kaitkata: , | 1 Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.