Strategi Nasional Indonesia

Forum Diskusi Strategi Nasional Indonesia

Archive for Juni, 2008

“Brown Energy” Penghemat BBM 59%, mengapa tidak segera diterapkan?

Posted by sroestam pada 20 Juni 2008

Setelah beberapa bulan terakhir kita disibukkan dengan berita penemuan “Blue Energy” dari Ngajuk, Jawa Timur, maka hari ini di Harian KOMPAS kita membaca berita tentang sebuah penumuan yang tidak terlalu baru, yaitu “Brown Energy”. Mengapa dipakai kata “Brown”? Sebab penemu awalnya dari teknology ini adalah Mr. Yull Brown dari Australia pada tahun 1974.

Penghemat BBM

Teknologi “Brown Energy” ini sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan battery mobil, kita lakukan elektrolisa Air HO) yang dicampur dengan Soda Kue atau Kalium Hidroksida (KOH) guna memperlancar proses itu. Hasilnya adalah gas Hidrogen-Hidrogen-Oxygen (HHO). Has HHO ini kita campur dengan udara untuk dimasukkan ke Piston pembakaran mesin melalui Saringan Udara Karburator.

Hasilnya, mesin mobil bensin maupun mobil diesel bekerja lebih efisien dan bertenaga lebih kuat dibandingkan tanpa campuran gas HHO tersebut. Keuntungan lainnya lagi, hasil pembakaran gas HHO ini lebih ramah lingkungan dari pada aslinya, serta lebih sedikit kerak karbon yang menempel di piston mesin mobil. Efisiensi yang diperoleh bisa mencapai 59%.

Bilamana ini diterapkan diseluruh Indonesia, kita bisa menghemat konsumsi BBM sampai 59%, sehingga memungkinkan Indonesia tidak lagi mengimport BBM. Jadi kita dapat membuat harga BBM tidak lagi terpengaruh oleh fluktuasi harga BBM Luar Negeri yang sampai dengan hari ini sudah mencapai harga US$140/barrel.

Di Indonesia sudah ada tiga orang yang mengembangkan “Brown Energy” ini, yaitu pasangan sdr. Pumpida Hidayatullah dan sdr. Futung Mustari yang memakai Soda Kue sebagai campuran air , serta sdr. Djoko Sutrisno dari Yogyakarta yang memakai Kalium Hidroksida sebagai campuran air.

Sdr. Pumpida Hidayatullah dan Sdr. Futung Mustari kemarin pagi telah memberikan presentasi ke KADIN Indonesia. Mereka juga sudah menerbitkan buku “Rahasia Bahan Bakar Air” yang disertai VCD cara membuatnya seharga Rp 40.000,- Biaya untuk perangkat tambahan bagi mesin mobil diperkirakan tidak lebih dari Rp 200.000 -300.000 dan biaya bahan bakunya sangat murah, Rp 30.000 per kg KOH yang dapat dipakai sampai beberapa minggu.

Pertanyaan kami:

1. Apakah Kementrian Negara Ristek sudah meneliti penemuan Penghemat BBM “Brown Enewrgy” ini?

2. Mengapa Pemerintah tidak segera men-sosialisasikan penggunaannya diseluruh Indonesia, agar Indonesia segera terlepas dari Krisis Harga BBM Dunia??

Semoga informasi ini membawa kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.

Referensi:

1. http://www.brownsgas.com/

2. http://bahanbakarair.com/

3. http://waterbooster.com/

—————————0————————

Iklan

Posted in Brown Energy Penghemat BBM 59% | Dengan kaitkata: , , , , , , | 11 Comments »

PM Australia Kevin Rudd: Pemerintah sebaiknya beri Kail kepada Masyarakat dari pada beri Ikan

Posted by sroestam pada 15 Juni 2008

Nasehat PM Autralia tersebut agar Pemerintah memberi Kail kepada
Masyarakat Miskin dari pada memberi Ikan, adalah sangat tepat pada
situasi dewasa ini di Indonesia, terutama saat kita menghadapi
meningkatnya harga BBM.

Jadi dari pada membagi-bagi dana BLT, alangkah lebih baik kalau dana itu
dipakai untuk membeli kail, berupa Mesin Pembuat Biofuel/Bioetanol
kecil-kecil, dan dibagikan kepada kelompok2 masyarakat miskin untuk
mengelola, meproduksi dan menjual Biofuel kepada masyarakat sekitar
mereka yang membutuhkannya. Ini akan dapat meningkatkan taraf hidup
kelompok2 masyarakat miskin tersebut, menjadi masyarakat yang mampu dan
bisa berdikari untuk jangka panjang.

Barangkali ini adalah hikmah dari naiknya harga BBM bagi masyarakat itu.

Dari perhitungan kasar kami, Dana Subsidi BBM/BLT sebesar Rp 50 Trilyun
dapat dipakai untuk membeli 2 juta Mesin Biofuel @Rp 25 juta, dengan
kemampuan produksi minimal 1000 liter/hari.

Bila ada 16 juta rakyat miskin, maka tiap kelompok terdiri dari 16
juta/2 juta mesin = 8 orang per mesin Biofuel.

Revenue mesin per hari = 1000 x Rp 6000 = Rp 6 juta/hari, dibagi 8 orang
(keluarga), maka penghasilan mereka adalah Rp 750.000/hari/keluarga,
cukup untuk menjadikan mereka masyarakat kelas menengah yang mandiri.

Produksi Biofuel rakyat ini akan dapat mengurangi kebutuhan BBM DN
Indonesia, sampai pada tahap kita tidak perlu meng-impor BBM, malah
meng-export BBM. Jadi harga BBM di DN tidak lagi tergantung harga BM LN.
Indonesia akan dapat bertahan dari kemelut membubungnya harga BBM LN.

Semoga saran ini didengar oleh Pemerintah dan para Pemimpin Indonesia
untuk segera dilaksanakan.

Contoh mesin Bioetanol sudah banyak, termasuk buatan pak Darmoni Badri
dan Pak Himawan yang sudah beroperasi di Jawa Tengah.

Silahkan ditanggapi.

Posted in Pemerintah sebaiknya beri rakyat Kail daripada Ikan | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »