Strategi Nasional Indonesia

Forum Diskusi Strategi Nasional Indonesia

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘32 zona pembangunan teknologi-ekonomi’

Mengubah “Brain Drain” menjadi “Brain Gain”

Posted by sroestam pada 13 Februari 2008

Mengubah ‘Brain Drain’ Menjadi ‘Brain Gain’

Terlampir adalah sebuah tulisan yang menarik untuk diterapkan di Indonesia, berdasarkan pengalaman penerapannya di Cina. Semoga dengan mengikuti langkah itu kita dapat mempercepat Pembangunan Nasional Indonesia.Alangkah indah dan menariknya negeri Indonesia yang kita cintai ini, bilamana Pemerintah berhasil menerapkan kebijakan untuk mengubah “Brain Drain” menjadi “Brain Gain”. Negeri ini akan menjadi nyaman untuk ditempati oleh kita semua anak-anak bangsa beserta anak-cucu kita, tempat mengabdikan diri bagi nusa dan bangsa, dan tempat berlindung di hari tua, sampai kita menutup mata!

Penulis: Amich Alhumami
Peneliti sosial, Department of Social Anthropology
University of Sussex, United Kingdom

Dua raksasa Asia, China dan India yang diprediksi akan memimpin perekonomian dunia pada pertengahan abad ini, selama lebih dari 30 tahun kehilangan orang-orang terdidik dan bertalenta. Mereka pergi meninggalkan negara masing-masing untuk sekolah dan bekerja di luar negeri dengan harapan dapat mengembangkan karier profesional lebih baik. Bersamaan dengan mulai bangkitnya perekonomian, pemerintah China dan India telah merancang strategi untuk mengubah brain drain menjadi brain gain. Namun, pemerintah China tampaknya lebih agresif dan terencana secara sistematis dalam upaya memanggil pulang orang-orang terbaik, untuk membangun bangsa sendiri dan mengambil peran dalam mendorong akselerasi pembangunan ekonomi. China menempuh strategi ganda yang sangat efektif dengan membangun infrastruktur ekonomi dan pendidikan secara bersamaan.

Di bidang ekonomi, pemerintah China menciptakan lingkungan makroekonomi yang dinamis dan kondusif untuk menarik investasi baik domestik maupun asing, terutama melalui foreign direct investment (FDI). Industri manufaktur dibangun secara masif untuk menopang pertumbuhan. Pusat-pusat bisnis dan perdagangan dikembangkan dengan jaringan luar negeri yang tertata rapi, sehingga memacu pergerakan aktivitas bisnis dan perdagangan yang sangat prospektif. Maka, dalam waktu yang tak terlalu lama, China berkembang menjadi negara terbuka bagi pasar global dan investor-investor asing yang memberi kontribusi pada dinamika pertumbuhan ekonomi di negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu.

Strategi pembangunan ekonomi pun diperkuat melalui apa yang disebut special economic development zones, dengan menjadikan suatu wilayah tertentu sebagai pusat pertumbuhan. Wilayah-wilayah tersebut antara lain Shenzhen, Zhuhai, Shantou, Xianmen, Hainan, Shanghai, Dalian, Guangzhou, Tianjin, Zhanjiang, dan masih banyak lagi.

Sejalan dengan itu, China juga membangun sebanyak 15 zona perdagangan bebas, 32 zona pembangunan teknologi-ekonomi setingkat-negara, dan 53 zona pembangunan industri berteknologi tinggi di sejumlah kota besar dan menengah. Pemerintah pusat di Bejing kemudian mendorong setiap wilayah tersebut untuk saling berkompetisi menarik pulang tenaga-tenaga terdidik dan berbakat dengan menawarkan aneka insentif seperti pemotongan pajak, pemberian kredit lunak untuk berbisnis, kemudahan izin usaha, pembebasan biaya perkantoran, fasilitas perumahan yang baik, dan promosi yang lebih cepat.

Sampai saat ini lebih dari 110 macam special zones dan industrial parks telah dibangun dan khusus diperuntukkan bagi para returnees. Bahkan lebih dari 6.000 jenis usaha telah dibuka di lokasi-lokasi tersebut yang mempekerjakan lebih dari 15.000 returnees.

Setelah melihat basis infrastruktur ekonomi yang mulai tertata baik, orang-orang terdidik China yang bekerja di luar negeri secara bergelombang mulai pulang kembali ke Tanah Air. Mereka bekerja sebagai eksekutif profesional di berbagai perusahaan swasta atau merintis dan mengembangkan bisnis sendiri, bahkan tidak sedikit pula yang bekerja di kantor-kantor pemerintah. Saksikan, hampir semua lembaga finansial utama China seperti Central Bank dan Securities Regulatory Commission dipenuhi oleh tenaga-tenaga ahli berpendidikan dan berpengalaman kerja di luar negeri.

Para tenaga ahli berpendidikan luar negeri tersebut menjadi semakin yakin atas pilihan kebijakan pemerintah dalam membangun perekonomian nasional karena banyak sekali pusat-pusat bisnis dan perusahaan-perusahaan swasta berteknologi tinggi beroperasi di China yang masuk dalam daftar NASDAQ di Amerika Serikat (AS). Dengan bekal pengalaman kerja selama bertahun-tahun di berbagai multinational corporations (MNCs), mereka kembali ke China untuk berkontribusi dalam membangun dan memperkuat sistem serta aktif dalam proses perumusan kebijakan publik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Hal yang membuat mereka bersemangat pulang adalah tawaran gaji yang besar. Dengan bergelar MBA dari universitas-universitas prestisius di AS, mereka bisa memperoleh gaji dua-tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang berpendidikan dalam negeri.

Di bidang pendidikan, China membangun banyak sekali universitas berkelas dunia untuk mendidik tenaga-tenaga ahli bidang kedokteran, pertanian, ekonomi/manajemen, teknologi informasi/komunikasi, teknologi industri, bisnis/keuangan, dan lain-lain. Bayangkan, pada 2005 China mampu melahirkan sarjana sains dan keteknikan sebanyak 700.000, 11 kali lipat melampaui AS yang hanya 60.000. Tidak berlebihan bila China bercita-cita memiliki paling kurang 100 perguruan tinggi terbaik dunia sampai akhir abad ke-21 nanti, sehingga negara ini akan menjadi kiblat baru pendidikan di luar AS dan Eropa.

Untuk itu, pemerintah China mengalokasikan dana sebesar US$125 juta bagi 10 universitas terbaik dan US$225 per tahun khusus untuk dua universitas yang masuk 25 besar dunia yakni Beijing dan Tsing-Hua sebagai percontohan. Selain itu, pemerintah China juga membangun banyak sekali pusat-pusat penelitian dan pengembangan (research and development) guna memfasilitasi para ilmuwan dan peneliti, untuk melakukan penelitian ilmiah baik untuk keperluan akademik maupun riset terapan guna menopang pengembangan industri.

Dengan begitu, mereka lebih menekuni profesi dalam pengembangan sains dan keilmuan, sehingga tak ada waktu untuk memikirkan masalah politik apalagi melakukan demonstrasi dan protes massal. Untuk menarik pulang para ilmuwan bergelar PhD yang bekerja sebagai pengajar/peneliti di universitas luar negeri, pemerintah China menawarkan gaji yang tak kalah menggiurkan. Bagi ahli ekonomi dengan pengalaman kerja antara 5-10 tahun, misalnya, disediakan gaji antara US$30.000,00 sampai US$50.000,00, ditambah fasilitas perumahan dan berbagai tunjangan lain (kesehatan, transportasi, liburan).

Dunia mengetahui, peletak dasar strategi kebijakan ini adalah Deng Xiaoping yang dijuluki sebagai capitalist roader yakni sosok penganut setia ideologi sosialisme ortodoks yang menggerakkan proses revolusi sosial-politik, tetapi kemudian berbalik arah dan menempuh jalan kapitalisme dengan menyerap–baik terus-terang maupun tersembunyi–nilai-nilai ideologi kapitalisme, untuk melakukan restorasi politik dan ekonomi berdasarkan prinsip-prinsip dasar kapitalisme pasar. Pada 1980-an, Deng mengirim anak-anak muda berbakat ke negara-negara kapitalis Barat untuk sekolah dengan keyakinan bahwa sekalipun hanya sedikit saja dari mereka yang pulang kembali, pasti akan membawa dampak pada transformasi sosial ekonomi China di masa mendatang. Deng lalu memerintahkan Menteri Pendidikan, ketika itu Zhao Ziyang, yang kemudian menjadi Sekjen PKC dan perdana menteri, untuk merumuskan blue print dengan menekankan apa yang disebut store brain power overseas. Kebijakan ini berjalin kelindan dengan reformasi ekonomi yang ditempuh dengan menganut pasar terbuka dan perdagangan bebas, yang ditandai oleh bergabungnya China ke dalam World Trade Organization (WTO).

Dalam tempo dua dekade kemudian, kombinasi kedua strategi kebijakan tersebut benar-benar mengantarkan China pada kemajuan ekonomi sangat dahsyat, yang oleh banyak ahli dilukiskan sebagai bentuk quantum leap in economic development seperti tercermin pada rata-rata pertumbuhan ekonomi sekitar 8%-9% per tahun.

Pemimpin China telah bertukar generasi, namun penguasa baru tetap meneruskan kebijakan dasar warisan Deng Xiaoping. Mereka terus memacu pembangunan ekonomi nasional dengan menarik pulang ilmuwan-ilmuwan berbakat, akademisi-akademisi bereputasi internasional, ahli-ahli ekonomi terpandang, dan pengusaha-pengusaha berkelas dunia terutama yang bergerak di bidang industri teknologi tinggi. Menurut laporan kantor berita Xinhua, sekitar 250 ilmuwan terkemuka yang memimpin dan mengelola pusat-pusat pengembangan sains dan teknologi nasional adalah para returnees dari Amerika dan Eropa. Dengan pilihan strategi demikian, China telah berada pada jalur yang benar dan mulai memetik serta menikmati brain gain yang memberi kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi yang spektakuler itu.

Ditulis dalam Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.